Kesultanan Kilwa: Kerajaan Islam Terbesar di Afrika Timur

Fiqhislam.com - Kota apa yang paling masyhur di Afrika Timur pada abad ke-11 hingga 15 M?  Penjelajah Muslim legendaris, Ibnu Batuta dalam Ar-Rihla, mengungkapkan, kota paling berpengaruh dan terpopuler pada rentang abad itu adalah Kilwa. Ia adalah nama sebuah pulau yang berjarak sekitar tiga mil dari pantai Tanzania.

Saat Ibnu Batuta mengunjungi kota itu pada 1330 M,  di pulau itu berdiri sebuah Kerajaan Islam yang besar bernama  Kesultanan Kilwa.  Wilayah itu menjadi jalur transit perdagangan yang menghubungkan kawasan Selatan Afrika dengan Zimbabwe. Pada masa itu, besi dan emas menjadi komoditas unggulan yang dijual para saudagar.

Selain itu, Kilwa pun menjadi tempat bersandarnya kapal-kapal pedagang yang menjual gading, budak untuk dipekerjakan di pabrik tekstil, perhiasan, porselen, dan rempah-rempah dari Asia. Sejak kedatangan Ibnu Batutta, pamor Kesultanan Kilwa terdengar hingga ke berbagai penjuru dunia.

Pada era keemasannya, wilayah Kesultanan Kilwa terbentang di sepanjang garis pantai Swahili yang mencakup 14 wilayah (sebagian kini merupakan negara), yaitu Lamu, Malindi, Mombasa, Tanga, Pangani, Bagamoyo, Dar es Salaam, Zanzibar, Pemba, Mafia Island, Comoros, Mayotte, Sofala, dan Quelimane.


Kesultanan Kilwa: Kerajaan Islam Terbesar di Afrika TimurKesultanan Kilwa didirikan oleh seorang pangeran Persia dari Shiraz (sekarang merupakan salah satu kota padat penduduk di Iran), bernama  Ali Ibn al-Hassan el-Shirazy pada abad ke-10 M.  Ali adalah seorang pangeran yang disingkirkan enam saudaranya, setelah sang ayah wafat. Ia tak mendapat sedikitpun warisan dari harta pusaka ayahnya.

Ia lalu menyiapkan pelayaran keluar dari pulau Hormuz dan mulai melakukan perjalanan bersama beberapa pengikutnya ke arah Mogadishu, sebuah kota penyaluran barang komersil di pantai Afrika Timur. Sayangnya, Ali gagal bergaul dengan para elite Somali-Arab di kota tersebut. Ali kembali terusir.

Saat menyusuri Pantai Afrika, Ali  membeli pulau Kilwa dari Bantu, penduduk etnis Afrika. Menurut salah satu kronik (Strong, 1895),  Kilwa awalnya dimiliki oleh raja Bantu, Almuli. Pulau tersebut terhubung dengan daratan utama oleh sebuah jembatan kecil dari sebentuk tanah yang menonjol ke permukaan laut.

Raja itu setuju menjualnya dengan imbalan kain berwarna yang panjangnya bisa menutupi lingkar pulau itu. Saat raja berubah pikiran dan bermaksud mengambil kembali Pulau Kilwa, tanah yang menjadi jembatan penghubung telah digali oleh para pengikut Ali sehingga ia benar-benar berubah menjadi sebuah pulau.

Karena letaknya yang stategis, Kilwa akhirnya pusat perdagangan yang jauh lebih baik daripada Mogadishu. Keberadaannya mampu membetot perhatian banyak pedagang dan imigran, termasuk dari Persia dan Arab. Dan dalam beberapa tahun saja, mereka telah mampu membangun pemukiman satelit di Pulau Mafia yang berada di dekat Kilwa.

Kemunculan Kilwa sebagai pusat perdagangan baru menjadi tantangan bagi dominasi perdagangan di Mogadishu. Putra penerus kesembilan Ali, Suleiman ibnu al-Hassan ibnu Daud (raja ke-12 yang berkuasa pada 1178-1195), merebut kontrol kota Selatan Sofala, sebuah kota yang menjadi tempat panyaluran penting emas dan perdagangan gading.
 
Akuisisi Sofala menjadi sumber pemasukan baru yang menyumbangkan pendapatan emas bagi para Kesultanan Kilwa. Pemasukan besar tersebut memungkinkan mereka membiayai ekspansi dan perluasan kekuasaan Kilwa di sepanjang garis pantai Afrika Timur.

Pada puncak kekuasaannya di abad ke-15, Kesultanan Kilwa mengklaim penguasaan atas kota-kota daratan Malindi dan Sofala dan negara pulau Mombassa, Pemba, Zanzibar, Mafia, Comoro dan Mozambik, serta sejumlah tempat-tempat yang lebih kecil – yang kini disebut sebagai "Pantai Swahili".

Kilwa juga mengklaim kepemilikan atas saluran penghubung berbagai pos perdagangan kecil yang tersebar di pantai Madagaskar (yang kemudian dikenal dengan nama Arab sebagai Pulau Bulan). Di sebelah utara, kekuasaan Kilwa ditandai oleh sebuah kota bebas di Somalia, Barawa (sebuah republik aristokratis yang memimpin sendiri daerahnya) serta Mogadishu (saingan utama Kilwa dalam hal perdagangan). Ke selatan, kekuasaan Kilwa jauh mencapai Cape Correntes, yang kapal dagang biasanya tidak berani berlayar.

Meski dipimpin oleh seorang sultan, Kesultanan Kilwa bukan seperti kepemimpinan negara yang terpusat. Kesultanan yang telah dipimpin tidak kurang dari 49 sultan itu lebih menyerupai konfederasi sejumlah kota komersial yang memiliki elit internal, komunitas perdagangan, dan koneksi perdagangan sendiri-sendiri.
 
Gubernur atau pengawas yang diangkat oleh sultan tidak memiliki kekuasaan yang konsisten, karena di beberapa tempat seperti Sofala, gubernur lebih bersifat utusan atau duta besar.

Kesultanan Kilwa: Kerajaan Islam Terbesar di Afrika Timur

Pamor dan kedigjayaan Kesultanan Kejatuhan Kilwa bermula saat tahta sultan-pada masa Dinasti Mahdali jatuh ke tangan menteri-menteri ambisius. Para  mereka wazir (menteri) dan emir/amir yang ambisus memainkan peran ‘kingmakers’ dan penguasa de facto.

Mereka sesekali mencoba menyelinapkan diri mereka sendiri atau anggota keluarga mereka pada tahta dalam berkompetisi dengan dinasti kerajaan. Salah satu yang paling berhasil adalah Emir Muhammad Kiwabi, yang memegang jabatan sebagai emir selama dua dekade melewati kepemimpinan beberapa sultan.

Emir Muhammad pernah berkali-kali bermaksud mengangkat putra salah seorang wazir, yang juga keponakannya sendiri, al-Hassan, namun mendapat perlawanan luar biasa dari penduduk Kilwa. Pada akhirnya, ia mengangkat al-Fudail ibn Suleiman, yang berasal dari keluarga dinasti, sebagai sultan.

Al-Fudail-lah sultan terakhir pada masa Dinasti Mahdali, karena ia kemudian dikhianati dan dibunuh oleh seorang emir-nya, Ibrahim ibnu Suleiman. Emir Ibrahim kemudian menyatakan diri sebagai penguasa, bukan sebagai sultan, melainkan sebagai emir yang mengaku menjalankan pemerintahan atau undang-undang atas nama seorang putra sultan dari dinasti kerajaan terdahulu.

Ibrahim ibnu Suleiman inilah yang mengawali masuknya era Portugis dalam sejarah Kesultanan Kilwa. Kesultanan Kilwa berumur kurang lebih 549 tahun yang terbagi ke dalam tiga dinasti, yakni Dinasti Shirazi (957-1277), Dinasti Mahdali (1277-1495), dan era Portugis (1499-1506) yang diawali oleh perebutan kekuasaan dari Dinasti Mahdali.

Hingga kini, jejak dan peninggalan Kesultanan Kilwa masih tetap ada.

republika.co.id