Jejak Islam di Trinidad dan Tobago


Fiqhislam.com - Trinidad dan Tobago boleh jadi bukan nama negara yang terlalu akrab di telinga umat Islam di Indonesia. Negeri kepulauan penghasil minyak ini terletak jauh di kawasan Karibia. Meski bukan agama mayoritas di sana, Islam sejatinya memiliki akar sejarah yang panjang di negara ini.

Pew Research Center mencatat, jumlah Muslim yang mendiami Trinidad dan Tobago pada 2000 mencapai 78 ribu jiwa atau sekira 6,6 persen dari total penduduk. Mayoritas dari mereka bermukim di Pulau Trinidad. Kini, setelah 15 tahun berlalu, populasi umat Islam diperkirakan telah meningkat menjadi 100 ribu jiwa atau sekitar delapan persen dari total penduduk. Catatan tersebut sekaligus menempatkan Islam sebagai agama terbesar ketiga setelah Kristen dan Hindu.

Sejarah mencatat, kaum Muslimin pertama yang menetap di negeri itu adalah para budak kulit hitam dari suku Mandingo atau Mandinka yang berasal dari Afrika Barat. Kelompok etnis utama di Afrika Barat ini secara fisik atau budaya berasal dari Kekaisaran Mali kuno.

Mereka dibawa dari tanah leluhurnya ke Trinidad oleh para penjajah Eropa pada 1740. Selanjutnya, sepanjang 1816-1825, budak Muslim Afrika yang didatangkan ke Trinidad semakin banyak jumlahnya. Sejak 1840-an, imigran Muslim dari Asia Selatan mulai berdatangan ke Trinidad untuk bekerja sebagai buruh di perkebunan tebu dan kakao milik Pemerintah Kolonial Inggris. Dari tahun ke tahun, jumlah pekerja Muslim itu terus meningkat hingga akhirnya membentuk komunitas tersendiri di negeri itu.

Sebuah laporan yang disusun penulis Omar Hasan Kasule pada 1978 menyebut, budak-budak Muslim asal Afrika Barat itu pertama kali tiba sekitar 1777 untuk menggarap perkebunan teh di Trinidad. Jumlah mereka terus bertambah dan telah mencapai angka 20 ribu orang pada 1802.

Di negeri perantauan ini, kaum Muslim Mandigo terus berusaha menjaga identitas keislamannya. Di bawah pimpinan seorang tokoh bernama Muhammad Beth, mereka juga berusaha lepas dari perbudakan. Sejatinya, mereka senantiasa rindu untuk pulang ke kampung halaman. Akan tetapi, akhirnya mereka terputus hubungan dengan tanah kelahiran dan menetap di Trinidad.

Orang-orang Asia Selatan yang datang belakangan pertama kali tiba pada perayaan ulang tahun Trinidad pada 31 Mei 1845 menggunakan kapal Fatel Razeck yang berlabuh di Port of Spain. Mereka datang bersama dengan buruh lainnya yang beragama Hindu dari Uttar Pradesh, India, dengan jumlah keseluruhan 225 orang.

Hidup sebagai budak bukanlah kondisi yang menyenangkan, melainkan menyengsarakan. Kendati hidup sengsara, para budak Muslim tetap mempertahankan iman Islam mereka. Islam mereka jalankan dengan penuh kesetiaan dan penyerahan diri atas kehendak Allah SWT.

Dalam perjalanan sejarah Islam yang panjang di Trinidad, tercatat sebuah nama, Sayad Abdul Aziz. Dialah sosok penting dalam sejarah Islam di negeri ini. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai tokoh stabilitas Islam di Trinidad. Ia salah satu Muslim di Trinidad kala itu yang bisa membaca, menulis, dan memahami bahasa Urdu. Ia juga ahli di bidang matematika dan teknik. Sayad datang ke Trinidad pada 1883 sebagai mantan buruh di Afghanistan untuk menyebarkan Islam.

Sayad tinggal di Princes Town, bagian selatan Trinidad. Tapi, pengaruhnya terasa di seluruh koloni. Keramahannya membuat setiap orang bisa merasakan atmosfer Islam yang terpancar dari dalam dirinya. Ia pun mendirikan perkumpulan Islam pertama yang dinamakan "Islamic Guardian Association". 


 

Masjid Bermunculan di Trinidad dan Tobago

Seiring meningkatnya geliat pembangunan desa pada 1870, kondisi umat Islam ikut membaik. Masjid mulai dibangun di hampir setiap desa atau wilayah. Setiap masjid dipimpin oleh seorang imam.

Dalam catatan hariannya, seorang misionaris, John Morton menulis bahwa masjid mulai bermunculan di Trinidad pada 1860-an. Ia mendeskripsikannya sebagai ''sebuah bangunan mungil yang cantik.''

Imigran-imigran Muslim pertama dan keturunannya terlihat bertambah makmur. Merekalah yang membangun masjid yang biasanya terbuat dari kayu. Masjid-masjid tersebut biasanya digunakan untuk beribadah kaum laki-laki.

Hal ini terus berlangsung sampai 1928 ketika kaum perempuan dari permukiman Peru mulai datang ke masjid untuk menghadiri perayaan khusus, seperti shalat saat Idul Adha dan Idul Fitri.

Pada awal 1930, kelas agama mulai diadakan di masjid-masjid. Kelas-kelas ini dikelola oleh para imam atau jamaah dewasa yang sudah menguasai ilmu agama. Kelas agama ini mengajarkan bahasa Arab, bahasa Urdu, tata cara beribadah, dan pengetahuan dasar Islam.

Saat ini, terdapat 25 masjid di Pulau Trinidad. Dua masjid di antaranya ada di Pulau Tobago. Salah satu masjid terbesar adalah Jinah Memorial Mosque of Saint Joseph yang dibangun pada 1954.

Sejak awal abad ke-20, kaum Muslimin mulai membentuk kelompok-kelompok keagamaan yang bisa mengakomodasi kebutuhan dan ketertarikan mereka terhadap Islam. Organisasi keagamaan ini mendapatkan pengakuan dari pemerintah.

Organisasi keagamaan pertama yang terbentuk adalah Islamic Guardian Association (IGA) of Princes Town yang didirikan pada 1906. Terbentuknya IGA mendorong terbentuknya East Indian National Association (EINA) yang beranggotakan Muslim India pada 1897. Bersatunya kaum Muslim ini mendorong terbentuknya organisasi yang lebih besar lagi, yaitu Tackveeyatul Islamia Association (TIA) pada 1931.

Sejak merdeka pada 1962, perekonomian Trinidad terus membaik. Dari sebelumnya hanya bergantung pada ekspor gula, bergeser ke minyak dan menjadikan Trinidad sebagai negeri paling makmur dan paling maju industrinya dibandingkan negara-negara lain di wilayah Laut Karibia.

Umat Islam yang dijumpai di Trinidad hari ini umumnya adalah keturunan dari orang-orang Asia Selatan. Selama beberapa dekade terakhir, umat Islam di Trinidad telah membuat kemajuan di berbagai bidang. Tak sedikit dari mereka yang memiliki profesi mentereng, seperti dokter, pengacara, insinyur, ahli kimia, pengusaha, dan politikus. Banyak pula Muslim yang menjadi guru dan pedagang. Dan, setiap tahunnya tak kurang 100 Muslim Trinidadi menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.


 

Trinidad dan Tobago Akui Hari Besar Islam

Kendati merupakan umat minoritas, umat Islam menikmati iklim toleransi yang baik dari warga non-Muslim yang mayoritas. Bahkan ,dalam beberapa hal, model toleransi yang dikembangkan Pemerintah Trinidad dan Tobago dalam kehidupan beragama layak menjadi contoh bagi negara-negara mayoritas non-Muslim lainnya.

Di sana, umat Islam tidak sekadar memperoleh kebebasan dalam menjalankan ibadah. Lebih dari itu, pemerintah dan rakyat negeri ini menjunjung tinggi toleransi kepada kaum Muslimin. Idul Fitri yang merupakan hari raya umat Islam ditetapkan sebagai hari libur nasional. Umat Islam di Trinidad dan Tobago juga dilibatkan secara aktif oleh pemerintah setempat ketika mengambil berbagai keputusan politik.

Pada pertengahan tahun lalu, misalnya, Perdana Menteri Kamla Persad-Bissessar sengaja menggelar pertemuan dengan sejumlah komunitas Muslim di negeri itu. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk membahas jadwal penyelenggaraan Pemilu 2015 yang tepat supaya tidak berimpitan dengan pelaksanaan puasa Ramadhan 1436 H. Dengan begitu, kaum Muslimin diharapkan dapat melaksanakan ibadahnya secara maksimal selama bulan suci.

Perkembangan Islam di negara tersebut hari ini tidak terlepas dari peranan masyarakat Muslim dari belahan dunia lainnya, antara lain, India, Pakistan, Indonesia, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Arab Saudi yang telah membantu menghidupkan kembali kesadaran umat Islam di Karibia setidaknya dalam 130 tahun terakhir.

Beberapa siswa Muslim di Trinidad juga dikirim ke pusat-pusat studi Islam di UEA, Pakistan, dan Arab Saudi. Harapannya, mereka kelak dapat kembali ke Tanah Airnya sebagai dai yang terlatih. Beberapa tokoh Muslim turut memainkan peran penting di pemerintahan dan parlemen negeri ini. Satu di antaranya adalah Donafarnik Davidson yang sempat menjadi perhatian dunia karena merupakan Muslimah mualaf pertama yang menduduki jabatan Menteri Dalam Negeri Trinidad dan Tobago.

Wanita itu mengikrarkan dua kalimat syahadat pada 1975. Setelah masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Madame Fatima Mik Davidson. [yy/republika]

 

 

Tags: trinidad