Setelah Memeluk Islam, Michael Decero (Salahuddin) Menjadi Penulis Buku Islam

Fiqhislam.com - Bulan Juli tahun 2012 adalah pertama kalinya Michael tersentuh oleh dakwah. Kala itu ia bertemu dengan seorang Afro-Amerika dan ingin menunjukkan kepadanya bahwa dia telah salah memilih Islam.

Michael berbicara dengannya tentang Yesus dan ternyata dia adalah seorang Kristian sebelum memeluk Islam, dan tidak tahu betul tentang Injil.

Muslim Afro-Amerika tersebut melontarkan banyak pertanyaan padanya tentang gereja, Yesus, Maria, dan sejarah. Beberapa pertanyaan tidak pernah terbesit dalam pikirannya dan dia merasa kagum.

Dia selalu menanyakan kepada nya apakah Yesus menyatakan dirinya sebagai Tuhan? Michael pun tidak bisa menjawabnya karena memang Yesus tidak menyatakan dirinya sebagai Tuhan, ia tidak pernah terpikirkan hal seperti itu.

Michael pulang ke rumah dengan masih memikirkan apa yang sudah dibicarakannya dengan Muslim Afro-Amerika. Dia merenungkannya sepanjang malam.

“Aku mulai membaca Al Qur’an dan setidaknya aku harus membaca dua kali setiap satu baris. Aku membaca Sirah Nabawiyah, dan hadis yang benar-benar aku cintai. Aku mulai menelusuri bagaimana cara Muslim beribadah,” jelasnya ketika mulai tersentuh ajaran Islam.

4 bulan berlalu akhirnya ia menyimpulkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, Anak Tuhan , ataupun Trinitas. Dia juga menyimpulkan bahwa ‘dosa bawaan’ tidaklah keluar dari mulut Yesus.

“Aku menyadari bahwa Yesus yang aku yakini adalah berasal dari gereja Katolik, bukan berasal dari Injil. Aku merasa begitu kacau sekarang dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku merasakan sakit di kepala dan badanku karena bingung dan tak tentu arah. Aku tidak lag meyakini apa yang sebelumnya kuyakini tetapi aku tidak tahu yang mana yang benar. Ketika aku menjadi seorang Muslim, hal yang ku sesalkan bukanlah karena tidak lagi meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi karena waktu 8.5 tahun yang kuhabiskan untuk hidup di dalam Kristianitas,” sesalnya ketika sudah memeluk Islam.

Michael cukup terkenal di Amerika dan Eropa. Banyak orang yang mengagumi dan menyukainya. Tapi, ia menyadari bahwa Kristianitas bukanlah kebenaran. Pertama kalinya ketika bulan November ia mengunjungi masjid di Philadelphia dekat rumah ibunya, dan mengutarakan ke imam masjid bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim.

Imam masjid menanyai tentang pengetahuan Islam dan dia hanya menjelaskan sedikit pengetahuannya. Imam masjid memberinya pengetahuan tentang Islam selama 2 jam.

Saat itu pukul 12 malam Michael menjadi seorang Muslim dan mengucapkan dua Kalimat Syahadat, tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, dan mengganti namanya menjadi Shalahuddin.

“Sekarang aku adalah seorang Muslim dan aku merasa seperti seorang bayi yang baru lahir, dan aku harus mempelajari segala hal lagi,” ungkapnya ketika menjadi seorang Muslim. [baca: Dulu, Ganja dan Kriminalitas, Sekarang Pendakwah Ulung]

Imam masjid mengajarinya cara berwudu dan sholat. Muslim lain yang berada di masjid sangat menolong dan senang terhadapku sebagai bagian dari masjid.

Salahuddin mempunyai kecenderungan untuk menjadi relijius. Dia mulia pergi ke masjid untuk mendirikan sholat wajib dan mulia membaca Al Qur’an, hadits, dan tafsir.

“Ketika aku menjadi seorang Muslim, aku meminta pertolongan kepada Allah agar aku dapat mempelajari Islam lebih dalam dibanding ketika aku dulu mempelajari Kristianitas. Dan akhirnya Dia mengabulkan doaku. Aku mulai mempelajari bahasa Arab dengan Muslim lain selama 5 hari dalam seminggu. Hal yang sangat membantu dalam perjalananku dalam mendalami Islam adalah imam masjid. Aku belajar bersamanya 6 hari dalam seminggu dan kami berbicara tentang Islam selama satu sampai tiga jam. Aku benar-benar tidak bisa mengutarakan tentang pengorbanan imam masjid untuk mendidikku selama berbulan-bulan. Imam mengajakku untuk terlibat dalam dakwah. Lalu dia mengajakku ke gereja-geraja dan pertemuan dakwah untuk menceritakan kisahku,” tukasnya dikutip TDS.

Salahuddin mulai mengunjungi gereja-geraja, teman-temannya, dan sanak keluarganya untuk menceritakan tentang Islam.

Hari itu tidak ada satu hari pun di mana ia tidak menemukan setidaknya satu orang pun yang menceritakan tentang Islam. Imam masjid menyarankan Salahuddin untuk menulis buku. Salahuddin memulai sebuah ikhtisar dalam buku pertamanya yang berjudul “YESUS di dalam Injil dan Al-Quran”.

Setelah menyelesaikan buku pertamanya, ia melanjutkan menulis buku keduanya yang berjudul “Muhammad dalam Injil”. Dan Salahuddin sekarang sedang menyelesaikan buku ketiganya yang berjudul “Apakah Yesus Berkata Bahwa Aku adalah Tuhan?”

Imam masjid seperti sebuah aset baginya. Dia belajar di Yaman beberapa tahun dan pindah studi ke Al Azhar Kairo Mesir. Dia sedang menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Kairo. Salahuddin pun sudah mendaftarkan diri dan berharap diterima di Universitas Madinah. Jika tidak diterima, Salahuddin akan mencobanya di universitas lain, insya Allah. Salahuddin menikah dengan seorang gadis Palestina dan dianugerahi seorang anak laki-laki, kini berusia 7 bulan dan bernama Muhammad.

Hidup Salahuddin berubah secara drastis selama 2 tahun terkahir. Keluarganya tidak menyukainya karena ia menjadi seorang Muslim, tapi Allah memberikannya teman-teman terbaik ketika menjadi seorang Muslim.

“Islam sudah merubah hidupku menjadi seseorang yang ku inginkan. Allah memberikanku waktu untuk mempelajari Kristianitas selama 8.5 tahun dan menggunakannya untuk membawa non-muslim menjadi Muslim,” jelasnya dengan bahagia. [yy/hidayatullah]