Agenda Besar Umat Islam
 
Fiqhislam.com - Sedih menyayat hati ketika melihat foto Aylan Kurdi (3 tahun), balita malang asal Suriah yang ditemukan tertelungkup tak bernyawa di pantai Turki, beberapa waktu lalu. Aylan yang malang tewas tenggelam bersama ibu dan saudara kandungnya ketika berusaha menyeberang ke Eropa bersama puluhan warga Suriah lainnya di Laut Mediterania. Seketika, foto tragis itu menyulut emosi masyarakat dunia setelah menyebar secara viral melalui jejaring media.

Hari-hari ini, Eropa memang sedang disibukkan dengan kedatangan ratusan ribu pengungsi dan imigran dari Timur Tengah, gelombang pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II. Mereka adalah kaum Muslimin yang terpaksa 'terusir' dari negerinya karena perang, kekerasan, dan penindasan rezim. Mereka sebagian besar datang dari Suriah. Sisanya, imigran dari Irak, Iran, dan Afghanistan.

Data terakhir yang dilansir PBB, korban tewas akibat konflik empat tahun di Suriah sudah mencapai lebih dari 230 ribu orang. Lebih dari 6,5 juta jiwa terpaksa mengungsi. Sisanya, dari total populasi Suriah sekitar 22 juta jiwa, masih terjebak di tengah peperangan antara tentara Assad, oposisi, dan kelompok ISIS yang menguasai beberapa kota.

Desakan agar negara-negara Eropa membuka pintu bagi para pengungsi mengemuka. Sejauh ini, baru Jerman yang menyatakan akan menerima 800 ribu pengungsi asal Suriah. AS sudah membuka pintu bagi 10 ribu pengungsi Suriah tahun depan.

Beberapa pemimpin Barat pun sudah mendorong upaya kemanusiaan serta mencari solusi, termasuk kemungkinan menyerang Suriah. Ironisnya, negara-negara Muslim dan para pemimpin Muslim terkesan absen dari penyelesaian masalah ini.

Di sisi lain, arus gelombang pengungsi kaum Muslimin terus mengalir. ISIS masih leluasa menghancurkan Irak dan Suriah. Di belahan dunia lain, Yaman masih bergejolak, Palestina masih dijajah Israel, negeri-negeri Muslim di Afrika juga terjebak perang saudara dan proxy.

Masalah Suriah hanya satu contoh krisis dunia Islam hari ini. Masih banyak lagi sederet krisis di tubuh umat Islam, mulai dari politik, pendidikan, budaya, ekonomi, sosial, hingga teknologi. Umat ini sedang terombang-ambing dalam kesengsaraan dan kegelapan. Setelah tongkat kekhilafahan terlepas dari tangan kaum Muslimin 90 tahun lalu, umat Islam kini berada dalam perpecahan, kemunduran, dan pudarnya kebanggaan identitas sebagai Muslim.

Padahal, secara demografis, populasi umat Islam di dunia tumbuh sangat luar biasa yang belum pernah tercapai pada masa-masa sebelumnya. Pertumbuhan populasi Muslim di berbagai negara, terutama di Eropa dan Amerika, menggambarkan perkembangan mencengangkan. Pada April 2015 lembaga riset terkemuka di AS, Pew Research Centre, melansir laporan prediksi pertumbuhan agama-agama di dunia. Dalam laporannya itu, Pew memprediksi, jumlah Muslim akan sama dengan pemeluk agama Kristen di dunia pada 2050.

Pada 2010 Kristen adalah agama terbesar di dunia dengan estimasi populasinya 2,2 miliar jiwa (31 persen) dari 6,9 miliar penduduk bumi. Islam menjadi agama berikutnya dengan populasi 1,6 miliar jiwa atau 23 persen.

Di benua Eropa, Pew memprediksi, populasi Muslim akan mencapai 10 peren dari total penduduknya. Di negeri Paman Sam, pemeluk Kristen akan turun dari tiga perempat menjadi dua pertiga pada 2050. Bahkan, di India, populasi Muslim diprediksi melampaui jumlah Muslim negara manapun, termasuk Indonesia sebagai negara demokrasi Muslim terbesar saat ini.

Secara geografis, penyebaran populasi umat Islam juga berada pada wilayah yang subur dan kaya sumber daya alam dan energi. Wilayah subur sebagian besar berada pada jalur ekuator dunia yang notabene di jalur tersebut banyak dikuasai umat Islam.

Artinya, dengan modal demografis dan geografis demikian, umat Islam seharusnya menjadi khalifah, sebagai pemimpin peradaban dunia sebagaimana disebutkan Alquran sebagai khairu ummah yang mengemban amanah sebagai khalifah fil ardh. Menjadi pemimpin yang mengatur dunia dan menyebarkan kebajikan serta teladan kemajuan bagi umat yang lain sesuai syariah Allah.

Dengan modal demografis dan geografis ini, umat Islam berpotensi menjadi kekuatan poros kelima, bahkan pertama, jika peta kekuatan global saat ini terpolarisasi kepada empat poros utama, yaitu Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Uni Eropa. Umat Islam sudah seharusnya menjadi aktor penting yang memainkan banyak peran kemaslahatan bagi dunia. Bukan korban akibat pertarungan ataupun objek perebutan kekuatan-keuatan dunia.

Krisis pengungsi seperti di Eropa hari ini tidak perlu terjadi jika peran kemaslahatan umat yang besar ini berfungsi baik. Ini agenda besar umat Islam, persatuan dan kebangkitan.

Peran Indonesia
Lalu, di mana peran Indonesia dalam hal ini? Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia sudah seharusnya mengambil peran lebih proaktif dengan menjadi solution maker berbagai persoalan di dunia Islam.

Namun, sebaliknya, kehadiran Indonesia selama ini dirasakan belum berperan signifikan sebagai problem solver di dunia Islam. Misalnya, keberadaan Indonesia dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak termanfaatkan maksimal untuk mendorong organisasi ini memiliki standing position yang kuat di PBB, AS, Israel, ataupun Uni Eropa dalam menyelesaikan masalah dunia Islam.

Soal Suriah, misalnya, OKI seharusnya lebih berperan. Indonesia harus berinisatif menggalang negara-negara Islam dan menekan OKI untuk mencari solusi Suriah. Tapi, Indonesia justru terkesan pasif, mengapa?

Faktor polarisasi umat Islam di Tanah Air menjadi salah satu faktor determinan yang menyebabkan Indonesia terkesan pasif. Kondisi umat Islam Indonesia hari ini masih terjebak dalam fanatisme organisasi ataupun kelompok. Mereka sibuk dengan agenda masing-masing tanpa punya agenda lebih besar untuk persatuan dan kebangkitan dunia Islam.

Beberapa waktu lalu, sejumlah organisasi massa Islam di Tanah Air telah merampungkan agenda internal mereka untuk suksesi kepemimpinan. Sejumlah rekomendasi penting keumatan dihasilkan.

Menyoroti rekomendasi yang dihasilkan dari muktamar ormas Islam itu, umumnya menyerukan persatuan umat Islam Indonesia, toleransi, ilmu pengetahuan, solusi problem sosial, hingga komitmen menjaga keutuhan NKRI. Poin rekomendasi sebagian besar masih melingkupi masalah lokal dalam negeri, sisanya sedikit menyinggung persoalan global. Apalagi, seruan sistematis kepada umat Islam dunia untuk bersatu.

Penyelesaian krisis dunia Islam harus menjadi agenda bersama seluruh komponen umat. Ormas Islam Indonesia sudah seharusnya meluaskan jangkauan dakwah Islamiahnya berskala global, tidak lagi sebatas skala keindonesiaan. Sudah semestinya, agenda besar umat Islam untuk persatuan dan kebangkitan menjadi agenda abadi. Dengan kekuatan umat Islam yang bervisi global, dapat mendorong pemerintah lebih proaktif dalam solusi dunia Islam. Wallahu a'lam. 

Ahmad Zainuddin
Anggota Komisi I DPR Bidang Luar Negeri, Ketua Bidang Pengembangan Umat DPP PKS
yy/republika