Islam Moderat Indonesia Dikampanyekan di Belanda


Fiqhislam.com - Konferensi Internasional Kedua mengenai Islam moderat yang bertajuk Seeking The Middle Path (Al Wasatiyya): Articulations of Moderate Islam diselenggarakan di Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda.

Pejabat Pensosbud KBRI Den Haag Belanda, Renata Siagia, kepada Antara London, Senin (24/6) mengatakan konferensi Internasional tentang Islam moderat tersebut merupakan acara dua tahunan yang digagas PCINU Belanda bekerja sama dengan Universitas Radboud, Nijmegen, Belanda.

Konferensi diselenggarakan untuk mempromosikan dan lebih memahami konsep dari wasathiyyah yang kerap diterjemahkan sebagai Islam pertengahan atau jalan tengah.

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman H Saifuddin yang hadir sebagai pembicara utama menekankan bahwa prinsip beragama jalan tengah (middle way) sudah bukan hanya merupakan harapan suatu negara atau sekelompok masyarakat saja, melainkan merupakan kebutuhan bersama segenap bangsa. 

“Hal ini demi menciptakan tatanan dunia yang damai, rukun, anti kekerasan, dan saling menghargai perbedaan serta saling mengapresiasi keragaman.  

Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja menyampaikan bahwa Islam wasathiyyah (jalan tengah) atau moderat merupakan cara yang sesuai bagi semua agama untuk bersikap. Dalam praktiknya Indonesia sudah menjalankan nilai-nilai dari wasthiyyah tersebut sejak lama.

Konferensi tahun ini di hadiri sekitar 300 orang dan melibatkan para akademisi, peneliti dan budayawan dari berbagai latar belakang yang beragam baik dari Indonesia, maupun Belanda.

Turut hadir pula dalam konferensi antara lain, KH Yahya Cholil Staquf, Katib Am PBNU, anggota Wantimpres dan  Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban. 

Dalam rangkaian acara konferensi, pada 20 Juni, Konsorsium Belanda-Indonesia untuk hubungan Muslim-Kristen bekerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda menyelenggarakan kegiatan dialog antar agama (interfaith dialogue) yang bertajuk Promoting ''Costly'' tolerance: Challenges for states and religious communities.

Kegiatan mengambil tempat di Sekolah Indonesia Den Haag (SIDH), Wassenar dan dihadiri lebih dari 100 orang, antara lain para pemuka agama Islam dan Kristen Protestan serta para panelis dari berbagai instansi di Belanda dan Indonesia.

Dialog antara agama kali ini lebih banyak membahas mengenai cara negara bekerja sama dengan berbagai komunitas keagamaan untuk dapat mempromosikan toleransi.

Prof Syafiq A Mughni dalam kesempatan tersebut menekankan cara memecahkan masalah yang terjadi saat ini di antara kalangan Muslim dan Kristen adalah membangun kerja sama untuk menyatukan masyarakat agar dapat hidup berdampingan dengan damai. 

Selain itu, pemerintah juga memiliki peran yang sangat penting untuk merangkul berbagai komunitas agama agar tercapai kedamaian antar umat beragama.

Pada sesi selanjutnya, dialog juga diisi pembicara dari Indonesia dan Belanda. Pembahasan dialog antara lain mengenai peran aktor negara, aktor nonnegara, dan aktor agama dalam meningkatkan toleransi. 

Di antara pembicara dari Indonesia adalah KH Yahya Cholil Staquf, sedangkan perwakilan dari Belanda salah satunya Klaus de Rijk, dari Departemen Luar Negeri Kerajaan Belanda.

Rangkaian acara dari 19 sampai 20 Juni lalu diakhiri dengan acara Malam Budaya dan Gala Dinner yang diadakan di Aula Nusantara, KBRI Den Haag yang dihadiri hampir seluruh peserta konferensi dan dialog, termasuk Syekh Salim Awan Al HUSAINI, Ketua Darulfatwa-Islamic High Council Australia dan DR Asraf Malhast, Ketua AIEP Inggris. [yy/republika]