Saudi Kutuk Pembantaian Warga Palestina tak Bersenjata


Fiqhislam.com - Arab Saudi dengan keras mengutuk pembantaian orang Palestina yang tak bersenjata oleh pasukan keamanan Israel pada Senin (14/5). Kuwait menyatakan pembantaian kejam Israel terhadap orang Palestina melanggar hukum internasional.

Kementerian Urusan Luar Negeri Arab Saudi di dalam satu pernyataan menyampaikan dukungannya buat rakyat Palestina untuk melaksanakan hak sah mereka sejalan dengan resolusi internasional dan Gagasan Perdamaian Arab, kata Saudi Press Agency. Kementerian tersebut juga menyerukan dihentikannya bentrokan antara rakyat Palestina dan tentara Israel.

Pembunuhan itu dilakukan Israel pada Senin, sebagai reaksi atas protes massal Palestina terhadap pemindahan Kedutaan Besar AS. Pada Desember lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel, dan memerintahkan pemindahan Kedutaan Besar AS di Israel ke kota suci yang menjadi sengketa tersebut.

Pada Senin, Kuwait News Agency melaporkan Kuwait mengatakan pembantaian kejam Israel terhadap rakyat Palestina melanggar hukum hak asasi manusia internasional.

Dalam satu pertemuan yang dipimpin Perdana Menteri Sheikh Jaber Mubarak Al-Hamad As-Sabah, Pemerintah Kuwait menyeru Dewan Keamanan PBB agar mengesahkan tindakan mendesak guna melindungai warga sipil Palestina terhadap kekerasan oleh Israel.

Pemerintah Kuwait juga menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh tentara Israel terhadap rakyat Palestina yang memprotes pembukaan Kedutaan Besar AS ke kota suci yang menjadi sengketa, Yerusalem.

Pada Senin, bentrokan baru meletus sehubungan dengan peresmian pemindahan Jedytaab Besar AS ke Jerusalam, tempat 55 orang Palestina, termasuk anak kecil tewas oleh pasukan keamanan Israel, kata Kementerian Kesehatan Palestina. [yy/republika]


Apa yang Terjadi di Gaza


Apa yang Terjadi di Gaza


Fiqhislam.com - Warga Palestina di Jalur Gaza memulai unjuk rasa selama enam pekan sejak 30 Maret lalu untuk menuntut pengungsi Palestina diizinkan kembali ke lokasi-lokasi yang sekarang direbut Israel. Tanggal itu dipilih untuk memulai unjuk rasa menandai Hari Tanah guna memperingati enam warga Arab Israel yang dibunuh pasukan keamanan Israel dalam unjuk rasa pada 1976 atas penyitaan tanah oleh pemerintah di bagian utara Israel.

Unjuk rasa yang diberi panggilan “The Great march Return” alias “Gerakan Kembali Akbar” itu direncanakan memuncak pada 15 Mei ini, menandai Hari Nakba atau ‘malapetaka’ bagi Rakyat Palestina terkait pengusiran 700 ribu warga Arab Palestina sehari selepas proklamasi pendirian Israel pada 1948. Hamas dan sejumlah faksi serta aktifis lainnya di Gaza ikut serta mengorganisir aksi unjuk rasa.

Palestina sudah sejak lama menuntut agar lima juta korban pengusiran dan keturunan mereka dapat kembali. Namun, Israel menolak karena khawatir gelombang masuk warga berkebangsaan Arab akan menghilangkan status mayoritas warga Yahudi di Israel. Israel beranggapan, para pengungsi itu harus direlokasi ke wilayah negara Palestina di masa mendatang, yaitu di Tepi Barat dan Gaza.

Konflik antara Palestina dan Israel telah berlangsung sejak 1967, dimulai dengan kebijakan pembangunan permukiman Yahudi di sejumlah wilayah yang dianggap sebagai hak Palestina, yaitu Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Solusi dua negara yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menjadi sebuah upaya untuk mengakhiri hal itu.

Melalui solusi dua negara, Palestina akan menjadi sebuah negara merdeka dan memiliki teritori di wilayah-wilayah yang menjadi sengketa dengan Israel. Namun, Israel tak pernah mengizinkan Palestina berdiri sebagai sebuah negara merdeka alih-alih hanya menjadi daerah otonomi di bawah administrasi mereka.

Aksi tersebut juga ikut mengutuk pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem pada Senin (14/5). Langkah pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu membuat meradang warga Palestina yang mengklaim Yerusalem Timur sebagai calon ibu kota mereka di masa datang.

Berapa peserta unjuk rasa?

Pada hari pertama aksi dua bulan lalu, pihak Israel melansir, sedikitnya 17 ribu warga Palestina ikut serta dalam barisan pulang tersebut. Jumlah itu fluktuatif sepanjang aksi unjuk rasa. Pada Senin (14/5), kantor berita palestina, Wafa melansir, sebanyak 35 ribu orang turut serta, jumlah paling banyak dibanding hari-hari sebelumnya. Mereka berkumpul di 15 titik konsentrasi dengan jarak beberapa ratus meter dari pagar pembatas dengan Israel.

Suasana di lokasi unjuk rasa dilaporkan menyerupai festival dengan tenda-tenda didirikan serta sejumlah pertunjukan ditampilkan. Pada aksi unjuk rasa, mereka berbaris menuju garis perbatasan itu, membakar ban untuk mengaburkan pandangan pasukan Israel, melemparkan batu, dan menerbangkan layang-layang api ke wilayah Israel.

Bagaimana tanggapan Israel?

Media Israel Haaretz dan Times of Israel melaporkan, kesiagaan pasukan keamanan Israel telah ditingkatkan menyusul aksi tersebut. Lebih dari 100 penembak jitu dikerahkan di perbatasan Gaza menjelang unjuk rasa besar di dekat perbatasan tersebut. Sejak hari pertama aksi, mereka telah menembaki demonstran dengan peluru timah, peluru karet, dan bom gas air mata. Pihak Israel juga mengklaim bahwa yang mereka tewaskan kebanyakan anggota Hamas.

Berapa jumlah korban sejauh ini?

Sejak 30 Maret, menurut Wafa dan Maannews, sebanyak 100 warga Palestina gugur dalam aksi tersebut. Dari jumlah itu, 12 di antaranya anak-anak. Selain yang tewas langsung dalam aksi, 13 warga Palestina gugur dalam periode tersebut termasuk enam yang mencoba menerobos pagar pembatas. Jumlah korban gugur terbanyak muncul pada Senin (14/5) dengan total 58 warga tewas hingga Senin (14/5) malam. Perempuan, anak-anak, orang tua, kaum difabel, dan jurnalis juga tercatat sebagai korban.

Sementara akumulasi korban luka-luka telah mencapai 12.271 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 6.760 harus dirawat di rumah sakit. Sebanyak 53 persen dari korban luka atau sebanyak 3.598 orang terkena peluru timah dari pasukan reguler maupun pasukan runduk militer Israel. Sedangkan dari pihak Israel, korban pertama yang mengalami luka-luka ringan tercatat pada Senin (14/5). Rumah sakit-rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Gaza dilaporkan kewalahan menangani gelombang korban yang berjatuhan.

Bagaimana tanggapan dunia?

Reuters melaporkan, Sekjen PBB Antonio Gutteres mengecam penggunaan kekerasan berlebihan oleh militer Israel. Kecaman serupa juga dilayangkan negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Indonesia telah melayangkan kecaman sejak aksi dimulai. Sejumlah lembaga filantropi Indonesia juga telah berada di lokasi unjuk rasa guna menyalurkan bantuan bagi warga Palestina. Menyusul kejadian pada Senin (14/5), Turki telah memanggil pulang duta besar mereka di Israel dan Amerika Serikat.

Sementara pihak Israel, dilansir the New York Times menanggapi aksi unjuk rasa sebagai gangguan atas perayaan pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem yang berlangsung Senin(14/5). Menurut Times of Israel Mereka berjanji akan meningkatkan penindakan terhadap para pengunjuk rasa.

Amerika Serikat sebagai sekutu utama Israel sebelumnya telah memveto resolusi Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB yang mengutuk kekerasan terhadap pengunjuk rasa Palestina. Dewan Keamanan PBB telah menjadwalkan sidang darurat pada Selasa (15/5).