Manal al-Sharif, Pelopor Kampanye Mengemudi Perempuan Saudi

Category: DUNIA ISLAM
Published: Jumat, 09 Februari 2018 14:10

Manal al-Sharif, Pelopor Kampanye Mengemudi Perempuan Saudi


Fiqhislam.com - Tahun lalu, para perempuan di Arab Saudi merayakan kemenangan besar saat mereka diberi hak mengemudi. Kini, perempuan di balik kampanye tersebut mengatakan ia akan merayakannya pada hari ia diakui sebagai warga dari tanah airnya sendiri.

Manal al-Sharif berada di garis depan kampanye Women2Drive (perempuan boleh mengemudi), yang dijalankan sejumlah aktivis hak asasi manusia yang melihat larangan tersebut sebagai lambang represi kerajaan terhadap kaum perempuan. Pada 2011 ia ditangkap setelah sebuah video muncul di media sosial yang menunjukkan ia tengah mengemudi di negara tersebut.

Sepanjang hidupnya, Manal diajarkan kodratnya dalam kehidupan sebagai perempuan adalah tinggal di rumah, menjadi ibu dan istri."Sepanjang hidup saya diminimalkan dan disingkat dalam peran untuk saya itu sebagai seorang perempuan. Pendidikan yang saya jalani sebagai perempuan di Arab Saudi, sebagai seorang gadis yang tumbuh besar, benar-benar merusak," ujar Manal.

Baru setelah ia pergi ke Mesir bersama ibunya untuk mengunjungi keluarga, da tiba-tiba melihat dunia lain, sebuah dunia di mana perempuan Muslim diizinkan melakukan hal-hal sederhana - seperti mengendarai mobil.

"Mereka benar-benar memiliki kehidupan normal, duduk di restoran bersama, berbicara. Ibu berbicara dengan sepupunya, sementara saya dilarang berbicara dengan sepupu laki-laki saya. Jadi itulah pertentangan pertama yang saya hadapi saat tumbuh besar dan di Arab Saudi," sebutnya.

Pengakuan sebagai warga negara

Para pemimpin Barat dan sejumlah tokoh ternama telah menyaksikan perkembangan di Arab Saudi dengan saksama. Dan Manal mengatakan, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum perempuan bisa menjadi "bebas".

Tapi ia telah belajar merayakan kemenangan kecil tersebut, dan mengatakan kampanye menuntuk hak mengemudi -yang membutuhkan waktu 27 tahun -telah membantu mendorong negara tersebut menuju perubahan yang lebih besar.

Satu perubahan yang diharapkan Manal adalah hari ketika perempuan seperti dirinya akan diakui sebagai warga negara penuh di negara mereka. "Saya masih belum diakui sebagai warga negara. Putra saya, saya tak bisa menurunkan kewarganegaraan saya, paspor saya kepadanya," ujar perempuan ini.

"Jika saya dipenjara, saya tak bisa meninggalkan penjara tanpa izin wali laki-laki saya. Saya tak bisa meninggalkan negara ini tanpa wali laki-laki saya. Jadi kecuali negara mengakui saya, mengakui keberadaan saya ketika saya dewasa di depan hukum dan mengakui saya sebagai warga negara, maka itulah saat saya benar-benar akan merayakannya," katanya.

Manal mengatakan, 80 persen populasi Arab Saudi berusia di bawah 40 tahun, namun sebagian besar pemimpinnya berusia di atas 80 tahun. Dan ia mengatakan generasi muda dikirim ke luar negeri untuk belajar, mengekspos mereka ke negara lain dan pemerintah lainnya.

"Jadi, ada orang berpendidikan tinggi yang kembali, mereka tinggal di luar negeri dalam demokrasi yang berfungsi baik dan mereka kembali dan tentu saja, mereka akan mendorong perubahan," katanya.

Revolusi perempuan Saudi

Ketika Manal mencoba menarik perhatian media terhadap isu-isu seperti sistem perwalian laki-laki, atau kurangnya status perempuan di dalam keluarga, hal itu tidak mungkin dilakukan. Jadi ia menggunakan kampanye Women2Drive yang digunakan sebagai simbol untuk semua masalah tersebut.

"Mengemudi benar-benar isu yang mendapat perhatian media untuk menjelaskan status perempuan di Arab Saudi," sebutnya.

"Kami menyebutnya revolusi perempuan Saudi, atau revolusi merah muda."

Larangan mengemudi bagi perempuan berarti mereka bukannya pergi ke mana pun dengan berjalan kaki, tapi mereka harus ditemani pendamping laki-laki. Arab Saudi tak memiliki transportasi umum sehingga berjalan kaki dan mengemudi adalah satu-satunya pilihan untuk berkeliling kota.

Dua pilihan untuk perempuan adalah menyewa seorang sopir laki-laki, atau bergantung pada laki-laki untuk mendampingi mereka - bahkan anak laki-laki berusia sembilan tahun. "Ini adalah situasi yang sangat aneh saat Anda terpisah dari pria sepanjang hidup Anda ... tapi kami terpaksa dikunci di dalam mobil dengan orang asing untuk mengantarkan kami berkeliling," katanya.

"Kontradiksi itu menciptakan banyak ketidaknyamanan dan juga pelecehan seksual -memeras perempuan karena ia membutuhkan pria untuk mengantarnya berkeliling, jadi ia memiliki akses ke rumahnya, nomor teleponnya, hidupnya."

Sementara banyak negara memiliki undang-undang antipelecehan, Arab Saudi telah lama menghindar untuk tidak memiliki peraturan seperti itu. Tahun lalu, dilaporkan rancangan undang-undang tentang pelecehan seksual terhenti di Dewan Syura.

Para anggota Dewan yang menentangnya berpendapat undang-undang tersebut akan mendorong pembauran antarjenis kelamin, dan juga memungkinkan perempuan keluar dengan pakaian yang lebih provokatif.

Undang-undang tersebut disahkan dengan dekrit kerajaan, namun Manal mengatakan UU itu tetap dalam pembahasandan karena itulah saat ini belum diberlakukan.

Manal telah menulis sebuah buku, Daring to Drive (berani mengemudi), dan akan berbicara di festival ‘All About Women’ (semua tentang perempuan) di Sydney Opera House. [yy/republika]