Kerumunan Bukan Jamaah

Fiqhislam.com - Organisasi kemasyarakatan Islam di negeri ini luar biasa banyaknya, bahkan beberapa diantaranya meng-klaim memiliki anggota yang sampai puluhaan juta orang. Umat ini memiliki masjid, sekolah, rumah sakit dan bahkan juga partai politik. Tetapi dalam kegiatan ekonomi apa yang kita miliki? Nyaris belum ada. Dalam kegiatan ekonomi umat yang banyak ini hanya menjadi semacam kerumuman (crowd) di pasar, belum berjama’ah membentuk kekuatan ekonomi.

Karena tidak membentuk suatu jama’ah, maka masing-masing kita seperti kawanan kambing yang terlepas dari gerombolannya sehingga sangat mudah ditangkap oleh sang serigala. Persis seperti yang diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

Sesungguhnya syetan itu serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing yang menerkam kambing-kambing yang keluar dari kawanannya dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan orang banyak.” (HR. Ahmad)

Serigala itu bisa berupa jaringan retail yang menangkap semua kebutuhan sehari-hari ratusan juta umat ini, mulai dari sembako, sabun dan sejenisnya sampai urusan yang lebih besar seperti urusan kendaraan/transportasi, urusan keuangan, urusan politik, urusan kepemimpinan dan berbagai urusan lainnya.

Masalahnya adalah cengkeraman serigala itu sudah begitu kuat dan luasnya sehingga ketika satu persatu umat ini mulai sadar-pun, tidak selalu mudah mencari alternatifnya. Ketika hadir satu atau dua (calon) kekuatan umat di bidang apapun, tidak jarang kemudian ditanggapi secara apatis “…ah ternyata sama saja…!”.

Mengapa umat yang begitu besar ini tidak bisa menjadi kekuatan ekonomi tersendiri misalnya? Mengapa kita tetap menjadi kerumunan orang di pasar, bukan menjadi kekuatan ekonomi berbasis Jama’ah ? Sejarah panjang telah merusak dengan sengaja budaya ekonomi umat ini, penjajah belanda yang meng-kapling-kapling pekerjaan secara turun temurun telah menghancur luluhkan mental berdagang dan bersyirkah dari umat yang mayoritas ini.

Kemudian tidak lama setelah kemerdekaan, umat ini pun mestinya punya kesempatan untuk bersatu – tetapi unsur pemecah itu datang lagi di tahun 1955 ketika umat Islam kemudian terpecah menjadi sejumlah partai-partai Islam.

Kesempatan berikutnya datang di era Orde Baru ketika Partai Islam hanya satu, namun karena saat itu ketika ada tiga partai – yang satu partai penguasa dan yang dua adalah partai jadi-jadian-nya sang penguasa, umat inipun tetap tidak (dikehendaki) bersatu.

Datang lagi era reformasi yang menjadi peluang emas untuk umat ini bersatu dalam kesatuan yang lebih besar, eh malah kembali seperti era tahun 1955 ketika tiba-tiba umat ini terpecah belah (lagi) menjadi sejumlah besar partai yang bermasa Islam.

Walhasil sejak era penjajahan sampai era reformasi di abad 21 ini, jalur poltik atau partai nampaknya belum bisa  mempersatukan umat ini – malah sebaliknya cenderung menjadi unsur pemecah belah umat. Di masa kecil, murid-murid madrasah desa sebelah suka sekali menyerang saya dan teman-teman saya karena  Kiai kami yang berbeda pandangan politik dengan Kiai mereka.

Kejadian semacam ini terus berlanjut dengan format berbeda hingga kini, umat sholat berjama’ah dalam masjid yang sama dengan imam yang sama. Tetapi karena aliran politik yang dianut satu sama lainnya berbeda, mudah sekali menangkap adanya perbedaan dan bahkan terkadang sampai ke tingkat pertentangan di antara umat ini.

Lantas dengan apa umat ini bisa dipersatukan dalam satu jama’ah ? Hanya aqidah yang lurus yang insyaAllah akan mempersatukannya, pegangan yang sama al-Qur’an dan al-hadits insyaAllah akan menjadi pemandu untuk kembali bersatunya umat ini.

Secara khusus Allah memerintahkan kita belajar dari proses pembuatan rumah terindah di bumi yaitu rumah lebah :

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتاً وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS an-Nahl[16] :68-69).

Ketika lebah membuat rumahnya, sejumlah besar lebah memulainya dari titik yang berbeda-beda. Ajaibnya adalah meskipun mulainya berbeda, ketika menjadi satu bangunan – bangunan tersebut menjadi rumah lebah yang indah, manusiapun tidak bisa membedakannnya lagi sel-sel segi enam rumah lebah itu tesambung antara yang mulai dibuat lebah a, dengan yang dibuat lebah b dst.

Apa yang membuat bangunan rumah lebah nampak seamless –  mulus tanpa sambungan? Karena lebah membuatnya dengan petunjuk wahyu! Maka di sinilah salah satu pelajaran terpentingnya itu.

Pekerjaan apapun yang kita (mulai) lakukan, bila dia didasari petunjuk wahyu – maka insyaAllah akan menyatu dengan pekerjaan lain yang dimulai oleh saudara kita lainnya yang menggunakan petunjuk wahyu yang sama.

Sebaliknya juga demikian, seberapa besar dan seriusnya pekerjaan sekalipun, seberapa baik penampakan luar ideologinya sekalipun – tetap tidak akan bisa membuat bangunan Islam yang seamless – tanpa sambung kemulusan dan keindahannya bila dia tidak didasarkan dengan wahyu yang sama.

Maka kurang lebih seperti itulah, kami hanya ingin ikut memulai membuat sekeping puzzle kecil dari big puzzle yang perlu dirangkai dan disusun umat ini. Puzzle kecil itu berupa pasar yang menggabungkan teknologi mobile dengan pasar fisik –www.lastfeet.com, pasar yang diharapkan memenuhi kriteria dalam hadits  Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam – falaa yuntaqoshonna wa laa yudrabanna.

Karena ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah wahyu “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) “ (QS 53:4), berusaha mengikuti sunnah beliau termasuk dalam hal pasar inipun insyaAllah juga dalam rangka mengikuti petunjuk wahyu itu.

Maka langkah kecil, keping kecil dari big puzzle bangunan Islam itu kini sudah siap. Mudah-mudahan ketemu keping-keping lain yang dimulai oleh saudara-saudara kita lainnya yang juga digerakkan wahyu yang sama.

Saat itulah bangunan Islam yang indah itu akan bisa kita hadirkan bersama-sama, dan saat itulah umat ini menjadi satu kesatuan jama’ah dan bukan lagi sekedar kerumunan semata. InsyaAllah.

Oleh Muhaimin Iqbal
yy/hidayatullah.com