Ghibah dalam Memilih Pemimpin, Bolehkah?

Category: ARTIKEL ISLAMI
Ghibah dalam Memilih Pemimpin, Bolehkah?
Fiqhislam.com - Kalau pun debat capres dan cawapres harus digelar, maka pihak penyelenggara harus profesional. Topik yang diperdebatkan harus jelas dan spesifik, tidak boleh sembarangan, apalagi masuk ke wilayah yang tidak ada kaitannya dengan permasahalan.
 
Namun memang seringkali yang namanya tim sukses resmi atau tidak resmi kurang terlalu peduli dengan segala peraturan. Biasanya alasan yang dikemukakan adalah "Lo Jual Gue Beli". Maksudnya, karena dianggap tim sukses lawan melakukan kecurangan, maka kita pun harus melakukannya juga. Akhirnya kedua belah pihak sama-sama sepakat melakukan kecurangan.
 
Padahal kalau mau belajar dari para ulama tentang bagaimana mereka berbeda pendapat, tentu debat itu akan menjadi sebuah diskusi ilmiyah yang sangat menarik dan bermanfaat.
 
Para ulama di masa lalu terkenal sering memperdebatkan suatu masalah hukum fiqih. Tetapi debat mereka memang bukan debat kacangan seperti di masa sekarang ini. Ada beberapa ciri yang membuat debat para ulama itu unik, di antaranya :
 
1. Jelas Titik Masalah Yang Diperdebatkan
 
Para ulama biasanya berbeda pendapat dalam masalah yang sifatnya detail masalah dan bukan pada masalah yang paling mendasar. Semua sepakat bahwa rujukan hukum adalah Al-Quran, As-Sunnah, Al-Ijma' dan Al-Qiyas.
 
Namun dalam hal yang lebih detail, barulah mereka berbeda pendapat. Itu pun biasa diawali dengan apa-apa yang mereka sepakati dulu. Namun ketika sampai ke hal-hal yang jauh lebih teknis, barulah terjadi perbedaan pendapat. Agak jarang perdebatan itu diawali pada masalah yang fundamental atau yang mendasar. 
 
Sedangkan debat capres cawapres seringkali tidak jelas apanya yang diperdebatkan. Sebab yang keluar dari mulut para kandidat itu lebih merupakan iklan dari pada kajian ilmiyah.
 
Prinsip dasar iklan dan kajian ilmiyah 180 derajat berbeda. Katakanlah iklan rokok di TV, hampir semua iklan rokok itu menarik dan mengundang decak kagum. Sebab materi iklannya malah sama sekali tidak bicara tentang dampak rokok pada kesehatan. Sebagai sebuah iklan, sah-sah saja bila materinya sama sekali tidak menyentuh titik masalahnya sendiri. Namanya juga iklan dan bukan kajian ilmiyah.
 
Nah, debat capres cawapres itu mirip-mirip dengan iklan rokok di TV. Materi debat lebih merupakan iklan ketimbang kajian ilmiyah. Cuma disandiwarakan sedemikian rupa biar kelihatan ilmiyah. Kita sebagai orang awam lantas menganggap debat itu ada bobotnya, padahal sama sekali tidak berguna.
 
Apalagi seperti yang Anda sebutkan, debat itu lebih merupakan kampanye negatif atau kampanye hitam untuk saling membeberkan keburukan lawan politik. Maka sempurna sudah kekeliruannya, tetapi entah bagaimana kok pada suka. 
 
2. Debat Profesional Dan Bukan Debat Kusir
 
Perdebatan kadang bukan hanya terjadi antar mazhab, tetapi seringkali satu ulama berbeda pendapat dengan ulama lain yang masih dalam satu mazhab. Bahkan yang lebih menarik, bisa saja seorang ulama berbeda pendapat dengan gurunya sendiri. 
 
Sebut saja misalnya Al-Muzani dalm urusan berapa lama masa nifas minimal, beliau mengatakan minimal 4 hari. Padahal sang guru, yaitu Al-Imam Asy-Syafi'i sendiri mengatakan bahwa masa minimal nifas adalah sekejap mata saja.
 
Perbedaan ini sangat dimungkinkan, sebab yang berdebat adalah orang-orang profesional dan sangat mengerti seluk beluk masalah yang sedang dikaji. Bahkan meski seorang murid lawan gurunya sendiri tidak jadi masalah.
 
Sebaliknya, debat capres cawapres dilakukan oleh calon pemimpin yang sebenarnya tidak terlalu mengerti detail semua masalah. Sayangnya, meski sudah dibantu oleh para menteri, kebanyakannya malah bukan dari kalangan profesional. 
 
Ternyata sudah jadi tradisi bahwa jabatan menteri lebih merupakan 'hadiah' dan 'anugerah' dari presiden kepada tokoh-tokoh yang dianggapnya 'berjasa'. Apakah menteri itu mengerti masalah yang dihadapinya, apakah dia pernah belajar secara serius tentang bidang yang dijabatnya, apakah menteri itu punya kapasitas, hanya menjadi bahan pertimbangan nomor dua belas, alias sama sekali tidak penting.
 
Idealnya, yang berbedat bukan cuma capres dan cawapres, tetapi para calon menterinya pun sudah mulai diskusi ilmiyah. Sebutlah misalnya capres A kalau terpilih akan mengangkat Menteri Agama yaitu X. Maka X ini pun seharusnya sudah harus menulis semacam proposal ilmiyah tentang apa saja yang akan dilakukannya selama 5 tahun masa jabatan. 
 
Lalu setiap orang diberikan akses untuk membaca tulisan ilmiyahnya itu selama beberapa waktu, kemudian pada hari yang ditentukan, giliran X harus mempertahankan tulisan ilmiyahnya di depan puluhan pakar di bidang tersebut. Hasilnya nanti akan ditentukan kemudian oleh para pakar itu.
 
3. Tidak Merasa Paling Benar
 
Para ulama di masa lalu meski sangat yakin dengan teori yang dimilikinya, namun tidak pernah merasa hanya dirinya yang paling benar dalam segala hal. Mereka tetap menghormati ulama lain sebagai orang yang juga ahli dalam bidangnya.
 
Maka ketika Imam Malik rahimahullah diminta agar kitabnya (Al-Muwaththa')  dijadikan kitab standar fiqih untuk seluruh dunia Islam oleh khalifah, beliau dengan tegas menolaknya. Bahkan sebagian riwayat menyebutkan permintaan itu bukan hanya sekali tetapi sampai tiga khalifah yang berbeda punya permintaan yang sama, namun beliau tetap menggelengkan kepala.
 
Kenapa?
 
Karena Imam Malik sangat yakin bahwa selain dirinya, ada juga para ulama lain yang juga punya kemampuan yang setara bahkan boleh jadi lebih tinggi ilmu dan kemampuannya. Maka sangat norak dan tidak masuk akal untuk menyetujui permintaan tiga khalifah.
 
Sedangkan dalam debat capres cawapres, agak sulit bagi kita untuk mendapatkan suguhan indah macam Imam Malik di atas. Mustahil ada capres dan cawapres yang bilang bahwa dirinya lebih rendah dan lawannya lebih baik dari dirinya. Yang ada tiap capres cawapres akan bilang bahwa yang benar hanya dirinya dan lawan politiknya pasti salah dan keliru.
 
Segala keburukan lawan politik adalah konten wajib yang harus digelar di ajang debat, sementara kelemahan dirinya pasti akan ditutupi atau dicarikan bahan pembelaan sebisa-bisanya. Karena itulah nama acaranya disebut dengan DEBAT dan bukan diskusi ilmiyah.   
 
4. Tetap Saling Cinta dan Saling Hormat
 
Yang ini mungkin jarang-jarang yang tahu. Ternyata meski Imam Malik sedang berdebat atas suatu masalah dengan Al-Laits Ibn Sa'ad, tetapi mereka selalu saling mengirimkan hadiah. Imam Malik kirim surat dengan disertai dengan kurma Madinah yang terkenal lezat itu. Begitu juga Al-Laits Ibn Sa'ad kalau mengirimkan jawaban, beliau kirim surat namun juga beserta itu beliau kriim hadiah. Tidak tanggung-tanggung, hadiah berupa emas murni.
 
Hadiah dari Al-Laits Ibn Sa'ad itulah yang kemudian oleh Imam Malik diberikan kepada murid kesayangannya, Al-Imam Asy-Syafi'i sebagai bekal untuk mahar pernikahannya. Padahal saat itu, Asy-Syafi'i sedang berdebat juga dengan Imam Malik sebagai gurunya.
 
Debat berjalan, saling kirim hadiah juga tetap berjalan. Itulah debat terindah yang pernah dipamerkan dalam sejarah oleh para ulama syariah. Apakah capres dan cawapres kalau debat bisa saling tukar hadiah seperti para ulama di atas? 
 
5. Debat Ulama Berdasarkan Dalil dan Hujjah
 
Para ulama pada dasarnya bukan tukang debat. Dan mereka juga bukan orang yang serba tahu berbagai masalah. Kalau tidak tahu, mereka lebih suka terus terang bilang tidah tahu, bukan berlagak sok tahu.
 
Para imam mazhab lebih sering menjawab tidak tahu setiap kali ditanyakan kepadanya suatu masalah. Sebab semua perkataan mereka harus dipertanggung-jawabkan dunia akhirat. Sedangkan perkataan politikus dan massa pendukungnya sangat tergantung kemana arah angin berhembus.
 
Maka disitulah perbedaan utama antara para ulama dan politikus. Ulama tidak bicara kecuali punya dasar hujjah yang ilmiyah dan sangat bisa dipertanggung-jawabkan. Sedangkan politisi, semua yang keluar dari mulunya tergantung situasi dan kondisi. Bisa saja pagi bilang A, siang berganti jadi bilang B, sore sudah ganti lagi jadi bilang C dan malam hari sudah pindah pandangan dan bilang D. 
 
Intinya, tidak ada yang bisa dipegang dari mulut para politikus. Semua tergantung situasi politik yang juga serba tidak menentu. Kita sebagai orang awam pasti dibuat pusing tujuh keliling. Kemarin berkoalisi dengan A dan memusuhi B, pagi hari ini sudah ganti peta politik, giliran bermusuhan dengan A dan berkoalisi dengan B. Tidak ada teman dan lawan abadi di dunia politik. Dan itu merupakan aqidah paling mendasar dalam ilmu politik. 
 
6. Terhindar Dari ghibah
 
Ulama tidak mungkin berghibah ketika berhujjah. Sebab materi yang diperdebatkan tidak ada kaitannya dengan pencitraan. Yang jadi tolok ukur bukan tingkat eletabilitas seorang ulama, tetapi tingkat akurasi dan validitas hujjah yang dimiliki. 
 
Sebaliknya, materi dasar politisi memang ghibah untuk menjatuhkan tingkat kepercayaan publik terhadap lawan politik. Sebab yang jadi tolok ukur semata-mata citra di mata masyarakat. Maka selain menaikkan citra diri, yang amat logis dilakukan adalah menjatuhkan citra lawan politik. Sebab derajat citra ekuivalen dengan tingkat elektabiitas. 
 
Alat untuk menaikkan citra disebut pencitraan. Dan alat untuk menjatuhkan citra disebut dengan ghibah. Yang namanya ghibah tentu hukumnya haram. Belum pernah ada ghibah yang hukumnya halal, apalagi demi kepentingan politik. Ghibah untuk kebaikan dan dakwah saja masih terlarang, apalagi untuk kepentingan sesaat dalam dunia politik yang culas. Sudah tujuannya keliru, caranya pun keliru juga. 
 
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
 
oleh Ahmad Sarwat, Lc., MA
Rumah Fiqih Indonesia
yy/nabawia.com