Agama Hanya Pakaian, Bukan Pengisi Hati

Fiqhislam.com - Suatu hari Nabi Isa melihat seseorang sedang mencuri, lalu beliau berkata: "Anda mencuri?" Orang itu menjawab: "Demi Allah, Dzat yang tidak ada tuhan selainNya, saya tidak mencuri." Nabi Isa kemudian berkata dengan niat menghargai sumpah atas nama Allah itu: "Saya beriman kepada Allah, saya menganggap mata saya yang salah."

Luar biasa Nabi Isa, menghargai betul keagungan nama Allah yang digunakan dalam sumpah walaupun tahu betul dengan melihat sendiri bahwa sumpah itu sesungguhnya tidak sesuai dengan kenyataannya.

Di Indonesia saat ini rata-rata rakyatnya mengikuti gaya Nabi Isa ini dengan terus mempercayai sumpah jabatan para pejabat walaupun dalam kenyataannya pembangunan tidak semakin maju dan keuangan negara banyak yang bocor dan hilang entah kemana. Bedanya mungkin adalah bahwa Nabi Isa mendasarkan diri pada ta'dzim nama Allah, sementara rakyat kita mendasarkan pada rasa bosan, jengkel dan sudah capek demo. Sebagian mungkin karena dapat bagian juga.

Kajian kisah jangan berhenti di sini. Bagaimana dengan si pencuri yang bersumpah palsu itu? Sungguh dia adalah orang yang terlaknat karena berani menyembunyikan pencuriannya di balik keagungan nama suci Allah. Orang semacam ini tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan sejati. Yang ada hanyalah kegelisahan di balik kemewahan hidupnya.

Bagaimana jika dia kemudian bertaubat? Jawabnya tentu adalah Allah akan menerima taubatnya asal betul-betul taubat nasuha, tidak mengulangi lagi perbuatannya dan mengembalikan hasil curiannya kepada yang berhak.

Sedih sekali hati ini mendengar kalimat: "Di Indonesia ini, sulit sekali mencari koruptor yang tidak rajin haji dan umroh." ungkapan yang menyimpan makna bahwa agama hanya dijadikan pakaian penutup badan, bukan sebagai esensi pengisi hati. [yy/inilah]