Gerhana dan Bencana Ala Stephen Hawking dan Islam

Category: ARTIKEL ISLAMI

Gerhana dan Bencana Ala Stephen Hawking dan IslamFiqhislam.com - Stephen William Hawking, lahir di Oxfrod, Britania Raya, 8 Januari 1942. Ia adalah ahli teoritikus fisika termasyhur dan seorang profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge.

Profesor yang mengidap ‘tetraplegia’ (kelumpuhan) karena terkena ‘skerosis lateral amiotrofik’ ini dikenal sebagai orang jenius abad 21. Meski punya kekurangan fisik namun kejeniusannya diakui dunia. Posisi di keilmuan Fisika Hawking malah sudah dianggap setara dengan Albert Enstein.

Nama Hawking melambung karena sumbangannya dalam bidang fisika kuantum. Dia masyhur dengan berbagai teori mengenai kosmologi, gravitasi, lubang hitam (black hole), dan radiasi. Karya tulisnya yang mendunia dan menjadi best seller adalah A Brief History of Time. Buku ini mengguncang dunia dan di Inggris selama hampir setahun (237 hari) secara berturut-turut menjadi best seller.

Dalam buku terakhirnya, yakni The Grand Design (PT Gramedia, ‘Rancangan Besar’) yang terbit tahun 2010, Hawking ternyata juga menulis soal yang bagi banyak orang dianggap ‘kontroversial’ yakni keberadaan atau eksistensi Tuhan di alam semesta. Dan di dalam buku itu, pada bagian awal buku itu Hawking menulis misteri Tuhan dengan mengaitkannya dengan kepercayaan orang terhadap mitologi gerhana matahari (dan juga bulan) di berbagai belahan dunia.

Berikut ini kajian Hawking mengenai fenoma gerhana dan bencana alam dalam kaitannya dengan budaya umat manusia di berbagai belahan dunia.

Dulu Dipenuhi Mitos Dewa-Dewi

Meski ada beberapa keberhasilan awal dalam memprediksi gerak benda langit, sebagian besar peristiwa di alam tampak mustahil diprediksi oleh leluhur kita. Gunung meletus. gempa bumi, angin topan, wabah, dan kuku kaki yang tumbuh menusuk daging sama-sama tampak terjadi tanpa kelihatan ada penyebab atau pola.

Dulu, biasanya kejadian dahsyat di dalam dikaitkan dengan ulah dewa-dewi yang usil atau berniat buruk. Bencana sering diartikan sebagai tanda-tanda kita yang telah menyinggung para dewa.

Contohnya, pada sekitar 5600 SM, Gunung Mazama, di Oregon meletus, menimbulkan hujan batu dan abu panas selama bertahun-tahun, menyebabkan curah hujan tinggi selama beberapa tahun hingga akhirnya mengisi penuh kawah gunung berapi tersebut, yang sekarang disebut Crater Lake atau Danau Kawah.

Suku Indian Klamat di Oregon punya legenda yang cocok sekali dengan semua rincian geologi peristiwa itu tapi menambah sejumput drama dengan menggambarkan seorang manusia sebagai bencana tersebut. Kemampuan manusia merasa bersalah sedemikian besar sehingga orang selalu bisa mencari cara menyalahkan diri mereka sendiri.

Menurut hikayat tersebut, Llao, penguasa Dunia Bawah, jatuh cinta kepada seorang manusia, putri suku klamath yang cantik. Namun, sang putri menampik cinta Llao, dan untuk membahas dendam, Llo mencoba memusnahkan suku Klmath dengan api.

Untungnya, lanjut cerita, Skell, Penguasa Dunia Atas, mengasihani manusia dan bertempur melawan sang penguasa Dunia Bawah. Akhirnya, Llao yang terluka dan muncur kembali ke dalam Gunung Mazma, meninggalkan lubang raksasa, kawah yang kelak terisi air.

Filsuff Thales dari Yunani Meramal Gerhana Matahari

Ketidaktahuan akan cara jalannya alam mebuat orang-orang zaman dahulu menggagas dewa-dewi sebagai penguasa, tiap segi hidup manusia. Ada dewi cinta dan perang, dewa matahari dan bulan, dewa matahari dan bulan, dewa laut dan sungai, dewa hujan dan dan badai petir, bahkan dewa gempa dan gunung berapi.

Ketika dewa-dewi berkenan, umat manusia dianugerahi cuaca baik, perdamaian, dan perlindungan dari bencana alam dan penyakit.

Namun, kala dewa-dewi murka, maka datanglah kekeringan, perang, wabah dan penyakit. Karena hubungan sebab dan akibat di alam tak tampak di mata mereka, maka dewa-dewi tampak tak dapat dipengaruhi dan nasib manusia berada di kehendak mereka.

Tapi sejak kemunculan filsuf Thales dari Miletos (kira-kira 624 SM-546 SM) atau sekitar 2.600 tahun silam, keadaan mulai berubah. Muncul gagasan bahwa alam mengikuti kaidah-kaidah yang konsisten dan bisa dipelajari. Dan dimulailah proses panjang mengenai gagasan kuasa dewa-dewi dengan konsep alam semesta yang diatur hukum, dan tercipta menurut rencana dasar yang kelak dapat kita baca.

Thales dianggap berhasil memprediksi terjadinya gerhana matahari pada 585 SM, walau ketepatannya mungkin hanya tebakan yang mujur. Dia sosok misterius yang tak meninggalkan karyanya sendiri. Rumah Thales menjadi salah satu pusat intelektual di daerah bernama Ionia, yang dikolonisasi bangsa Yunani dan kemudian menyebar pengaruh dari Turki sampai Italia.

Bukti Bumi Mengelilingi Matahari

Gagasan revolusioner bahwa kita hanyalah penghuni biasa alam semesta, bukan makhluk istimewa yang mendapat kehormatan bertempat di pusatnya, pertama kali diajukan oleh Aristrakhos (kira-kira 310-230 SM), salah seorang ilmuwan Ionia terakhir. Hanya satu perhitungan Aristarkhos yang selamat, yakni analisis geometris rumit yang dilakukannya terhadap ukuran bayangan bumi di bulan ketika terjadi gerhana bulan.

Disimpulkan berdasarkan data bahwa matahari pasti jauh lebih besar daripada bumi. Barangkali terilhami gagasan bahwa benda kecil seharusnya mengelilingi benda besar dan tidak sebaliknya. Aristarkhos menjad orang pertama yang berpendapat bumi bukanlah tata surya, melainkan mengelilingi matahari yang lebih besar dari planet-planet lainnya.

Dari kesadaran bahwa bumi hanyalah satu planet, hanya perlu langkah kecil untuk menyadari juga bahwa matahari kita juga tak istimewa. Aristarkhos menduga demikianlah adanya dan percaya bintang-bintang yang kita lihat pada langit malam sebenarnya matahari lain yang berjarak jauh.

Fenomena Gerhana Menurut Ajaran Islam

Tak beda dengan Hawking, ajaran Islam juga menyatakan gerhana matahari dan itu fenomena alam (sunatullah). Dan Islam mengajak manusia berfikir atas terjadinya peristiwa alam ini.

Banyak ayat di Alquran dan hadits menerangkan bahwa gerhana bukan tanda bencana. Peristiwa ini merupakan fenomena alam (hukum alam/sunatullah) biasa. Di surat Yasin misalnya sangat tegas dinyatakan bahwa bagaimana bumi berputar mengitari matahari.

Sedangkan di surat Al Fushilat juga secara tegas dinyatakan semua fenomena alam itu adalah tanda kekuasan Tuhan. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kalian sujud (menyembah) matahari  maupun bulan, tapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika memang kalian beribadah hanya kepada-Nya.” (Fushshilat: 37).

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam tentang Gerhana
Dari sahabat al-Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

{إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ}

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

yy/republika