18 Muharram 1441  |  Rabu 18 September 2019

AL HAKAM | YANG MAHA MENENTUKAN HUKUMAdalah Allah, hakim yang mengadili dan menuntut balas, yang kekuasaan-Nya tidak dapat digulingkan dan ketentuan-Nya tidak dapat dirubah.
 
'Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diupayakannya dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya) [An Najm:39~40].
 
'Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam Surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam Neraka' [Al Infithar:13~14].
 
Keputusan-Nya mengenai kebahagiaan bagi orang yang saleh dan kesengsaraan bagi orang durhaka (keji), artinya Dia menjadikan kesalehan dan kedurhakaan sebagai sebab-sebab yang membawa orang yang saleh menuju kebahagiaan dan orang yang berbuat dosamenuju kesengsaraan, sebagaimana Dia menjadikan obat sebagai sebab yang membawa orang yang meminum obat menjadi sembuh dari sakit dan menjadikan racun sebagai sebab yang membawa orang yang meminumnya sakit atau menemui ajal. Maka Dia adalah sebab dari segala sebab atau hakim yang mutlak.
 
Pengembangan dari hakim adalah Qadha dan Qadar Allah Azza wa jalla. Ditentukannya sebab-sebab yang mengantar terjadinya akibat yang bersifat asli, pasti dan tidak dapat berubah,seperti peredaran bumi, tujuh langit, bintang-bintang dan benda-benda langit di jagad raya adalah Qadha.
 
'Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. *kemudian dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "datanglah kamu keduanya menurut perintah-ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "kami datang dengan suka hati". * maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit yang dekat denganbintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. demikianlah ketentuan yang maha perkasa lagi maha mengetahui' [FUSH SHILAT:10~12].
 
Sebab-sebab yang telah ditetapkan Allah SWT, dengan gerakan-gerakan mereka yang harmonis terencana, tetap dan nyata pada akibat-akibat yang ditimbulkan oleh mereka, dari waktu ke waktu adalah Qadar-Nya. Keputusan-Nya adalah perencanaan awal mengenai keseluruhan, bersama dengan perintah awal seperti 'kedipan mata'.
 
'Kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. tiadalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau (bahkan) lebih cepat lagi. Sesungguhnya Alla Maha kuasa atas segala sesuatu' [An Nahl:77].
 
Qadha-Nya adalah menetapkan sebab-sebab universal dan konstan (tetap). Qadar-Nya menerapkan sebab-sebab universal dengan gerakan-gerakan-Nya yang sudah ditentukan dan terukur pada akibat-akibatnya, menurut ukuran yang sudah ditentukan, yang tidak bertambah dan tidak berkurang. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat lolos dari Qadha dan Qadar-Nya.
 
Menciptakan memerlukan tiga perkara:
  • Perencanaan, memutuskan apa yang dibutuhkan berkenaan dengan alat-alatnya,sebab-sebabnya, gerakan-gerakan yang menyebabkan tercapainya keputusan.
  • Menciptakan alat-alat, yang merupakan unsur-unsur pokoknya.
  • Menciptakan sebab yang memastikan gerakan tertentu, terukur dan pasti.
 
Ketika matahari mencapai titik tengah langit, udara menjadi panas, dan buah-buahan menjadi matang. Ketika matahari bergerak keluar dari titik tersebut udara menjadi dingin dan semakin dingin. Perbedaan diantara semua musim diatur dengan ukuran-ukuran tertentu, karena musim ini bergantung pada gerakan-gerakan matahari dan bulan. Matahari dan bulan mempunyai perhitungan, yaitu gerakan keduanya memiliki batas-batas dan ukuran tertentu, inilah yang disebut perencanaan sedangkan penciptaan sebab-sebab universal adalah Qadha-Nya dan perencanaan awal yang seperti kedipan mata merupakan keputusan Allah Azza wa Jalla. Allah adalah hakim yang paling adil yang menjadi gerak yang baik ataupun buruk menjadi sia-sia bagi si pelaku.
 
'Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka' [huud:11].
 
Amatlah sulit menjelaskan masalah Ilahiyah dengan menggunakan contoh-contoh adat kebiasaan umum (konvensional), namun sasaran dari contoh-contoh adalah menyampaikan/memberikan peringatan.
 
Setiap manusia mempunyai keputusan, pandangan, ukuran dan perencanaan, tetapi itu tidak penting. Dan yang penting bagi manusia adalah merencanakan pelatihan-pelatihan dan perjuangan yang akan membawa pada kesejahteraan dunia dan akhirat, dan untuk itulah Allah menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai Khalifah-Khalifah di bumi untuk menjaga amal-amal mereka.
 
Pena telah kering dengan menuliskan apa yang ada, sebab-sebab sudah diterapkan pada akibat-akibatnya, dan juga diterapkannya sebab-sebab atas akibat-akibatnya pada waktu yang tidak dapat dihindarkan. Apabila persoalannya sudah ditetapkan, mengapa harus beramal (bekerja) jika penyebab kebahagiaan dan kemalangan/kesulitan sudah ditetapkan ?.
 
Benar-benar bodoh kalau kita menjadikan sesuatu yang kejadiannya diharapkan sebagai penyebab kemalangan, karena jika kejadiannya telah ditetapkan, kewaspadaan maupun kecemasan tidak akan dapat membatalkannya. Hal itu sama dengan mempercepat rasa sakit karena takut pada terjadinya rasa sakit. Jika kejadiannya belum ditetapkan, tidak ada gunanya mengkhawatirkannya.
 
Kemudian Beliau membaca Al-Qur'an, yang artinya: 'Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah..Al Lail:5~7' [Muslim].
 
Hadits ini menunjukkan bahwa bagi siapapun kebahagiaan ditetapkan, hal itu ditetapkan dengan suatu sebab dan bagi siapapun kemalangan itu ditetapkan, juga ditetapkan melalui sebab dan manusia memiliki kelambanan/kelalaian dalam mencari sebab. Sebagian orang memandang akhirnya dengan melihat bagaiman akhir kehidupan mereka dan sebagian lagi memandang awalnya, dengan mempertimbangkan hal itu sudah ditentukan (ditakdirkan) bagi mereka dan golongan ini mempunyai derajat yang lebih tinggi, karena akhir itu ditentukan oleh awalnya.
 
Tingkatan yang diatasnya adalah orang yang kehilangan masa lalu dan masa datang dan merupakan ibnu waqtih (putera-putera waktu), karena mereka merenungkan Allah dan bahagia dengan hasil takdir Allah, serta yang muncul dari takdir tersebut. Tingkatan yang paling tinggi adalah orang yang kehilangan masa kini, masa lalu dan masa mendatang, yang hati mereka terserap dalam keagungan Sang Hakim, yang terus memandang-Nya (Zuhud).
 
Imam Al-Ghazali
foto madaniwallpaper.com
2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine