23 Muharram 1441  |  Senin 23 September 2019

Back Door ListingFiqhislam.com - Banyak jalan menuju Roma. Peribahasa itu juga bisa berlaku bagi perusahaan yang ingin menjadi perusahaan terbuka.

Untuk menjadi emiten yang sahamnya listing dan diperdagangkan di Bursa Efek, sebuah perusahaan tidak harus selalu lewat "pintu depan" melakukan penawaran perdana saham (initial public offering/IPO).

Untuk menjadi emiten, perusahaan bisa saja lewat pintu belakang tanpa menabrak rambu-rambu ketentuan di Pasar Modal. Teknik untuk menjadi emiten lewat pintu belakang ini dikenal dengan istilah back door listing. Banyak kasus yang bisa dijadikan contoh.

Caranya back door listing beragam. Tapi umumnya melalui satu proses yang dikenal dengan sebutan merger dan atau akuisisi. Teknik back door listing ini tidak semata-mata bertujuan menyerap dana masyarakat sebesar-besarnya. Selain itu, langkah back door listing seringkali dipergunakan sebagai jalan keluar bagi perusahaan sakit agar menjadi sehat.

Kalau diperhatikan beberapa kasus di Bursa Efek Indonesia (BEI) ada cukup banyak emiten yang semula kondisinya kembang kempis, harga saham yang ditawarkan di Rp50 saja tidak ada yang mau membeli, tidak berdaya dan diragukan status going concern-nya, tetapi berhasil bangkit kembali setelah jadi target back door listing.

Saham yang semula tidak ada yang mau menyentuh sehingga jarang sekali ada transaksi, tiba-tiba aktif ditransaksikan dan harganya di pasar naik siginifikan.

Bagaimana semua itu bisa dilakukan? Caranya hanya ada satu jalan yakni merger dan atau akuisisi. Tanpa adanya aksi korporasi berupa merger dan atau akuisisi maka sulit sekali bagi emiten yang sudah begitu terpuruk dan sahamnya tidak dilirik investor bisa bangkit kembali. Melalui aksi korporasi berupa merger dan atau akuisisi semua pemegang saham baik lembaga maupun individu dibikin happy.

Ilustrasinya begini. Misalnya PT ABCD Tbk sedang menghadapi masalah internal yang menyebabkan rontoknya kondisi fundamental perusahaan. Bisnisnya tidak lancar, pendapatannya tersendat dan anjlok  serta harga sahamnya tersungkur ke posisi terendah. Pendek kata, kelangsungan perusahaan PT ABCD Tbk diragukan. Dalam kondisi seperti itu, sangat wajar jika investor melepas sahamnya di pasar sehingga harganya sampai ke level terendah.

Dalam kondisi seperti ini, manajemen PT ABCD Tbk tidak tinggal diam.  Meskipun kondisi perusahaan terpuruk, tapi sebagai perusahaan publik yang sahamnya tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek, ia tetap memiliki nilai meski tidak tinggi. Bagi pemegang saham mayoritas yang sudah pasrah dan tidak berdaya, biasanya jalan untuk menyelamatkan perusahaan adalah mencari investor baru yang bersedia melakukan take over, atau mengundang mitra strategis untuk ikut menjadi pemegang saham baru.

Disinilah peluang back door listing itu terbuka. Langkahnya biasanya begini. Pertama, pendiri atau pemegang saham mayoritas  PT ABCD Tbk menjual sebagian besar atau mayoritas sahamnya ke pemegang saham pendiri  PT XYZ yang akan melakukan back door listing. Dengan adanya transaksi itu, PT ABCD Tbk dan PT XYZ memiliki hubungan afiliasi. Selanjutnya tahap  kedua, PT ABCD Tbk melakukan merger atau  akuisisi PT XYZ. Tahap ketiga, dalam rangka akuisisi itu PT ABCD Tbk melakukan penawaran umum terbatas (right issue). Langkah berikutnya, PT ABCD Tbk bisa mengubah nama  dan mengganti sektor usaha ke sektor lain yang digeluti oleh PT XYZ.

Dengan teknik seperti ini, secara substansi status PT XYZ  telah berubah menjadi perusahaan publik karena ia menjadi satu bagian dengan PT ABCD. (Tim BEI)

economy.okezone.com

2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine