21 Dzulhijjah 1440  |  Kamis 22 Augustus 2019

AL ‘ALIIM | YANG MAHA MENGETAHUIAllah dengan kesempurnaan-Nya, mengetahui segala sesuatu dengan pengetahuan-Nya yang nyata dan ghaib, baik yang kecil maupun yang besar, yang pertama maupun yang terakhir, permulaan dan hasilnya, dan banyaknya sesuatu/objek yang tidak diketahui menandakan bahwa pengetahuan Allah tidak terbatas, menjadikan sebagai pengetahuan yang paling sempurna.
 
Dan berkenaan dengan kejelasan dan penyingkapannya yang sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi pengelihatan dan atau penyingkapan jelas yang dapat ditangkap. Akhirnya, pengetahuan bukanlah berasal dari hal-hal yang diketahui, namun hal-hal yang diketahui berasal dari pengetahuan.
 
'Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada daratan dan di lautan, dan tidak jatuh sehelai daunpun, melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)' [Al An'aam:59].
 
'Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu' [Al An'aam:80].
 
Yang berarti segala gerak lahir dan bathin manusia diketahui oleh Allah Azza wa jalla.
 
'Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati' [Al Mu'min:19].
 
'Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang diantara keduanya dan semua yang dibawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi' [Thaahaa:6~7].
 
'Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya' [Al Baqarah:25].
 
Hamba Allah memiliki sifat 'Yang Mengetahui', tetapi berbeda dengan pengetahuan Allah Azza wa Jalla dalam tiga hal yang khusus.
 
(1)_Mengenai banyaknya hal-hal yang diketahui, itu terbatas pada hatinya dan tidak mungkin hal-hal yang diketahui manusia dapat disamakan dengan yang tidak terbatas.
 
'Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit' [Al Israa':85]
 
(2)_Penyingkapan manusia, walaupun jelas, tidaklah mencapai tujuan diluar tujuan ini, tidak mungkin lagi ada tujuan lain. Namun, pengelihatannya seperti melihat hal-hal dibalik tabir yang tipis. Oleh karena itu hendaknya jangan menyangkal derajat-derajat penyingkapan, sebab pengelihatan bathiniah sama seperti pengelihatan lahiriah, maka ada perbedaan antara apa yang jelas pada waktu sore dan apa yang jelas pada waktu pagi.
 
(3)_Pengetahuan Allah akan segala sesuatu itu bukanlah berasal dari sesuatu itu. Akan tetapi segala sesuatu itu berasal dari pengetahuan Allah sendiri, sedangkan pengetahuan manusia akan sesuatu, bergantung pada adanya sesuatu itu dan hasilnya.
 
Rasulullah Saw bersabda: 'Barangsiapa yang melalui jalan dalam keadaan dia mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan jalan baginya untuk sampai menuju Surga' [Muslim].
 
Artinya, terhadap orang yang mencari ilmu pengetahuan, Allah akan menunjukkan jalan Hidayah (petunjuk) dan ketaatan yang mengantarkannya ke Surga. Sesungguhnya Allah membalas perbuatan dengan memberi kemudahan baginya masuk ke Surga, yakni memudahkannya dalam menyeberangi perjalanan berat menuju Surga pada hari kiamat.
 
'Katakanlah (wahai Muhammad), adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui' [Az Zumar:9].
 
'Dan katankalah (wahai Muhammad): Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan' [Thaahaa:114].
 
'Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang berilmu (juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana' [Ali Imran:18].
 
'Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat' [Al-Mujadillah:1].
 
Orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan mempunyai derajat yang lebih tinggi sebanyak tujuh ratus derajat dibandingkan dengan orang-orang beriman tanpa ilmu pengetahuan. Jarak antara derajat yang satu dengan derajat yang lainnya sama dengan perjalanan lima ratus tahun'.
 
'Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah Ulama (orang-orang yang berilmu)' [Fathir:28].
 
Para Ulama diberi kemuliaan yang besar karena pengetahuan (makrifat) mereka kepada Allah SWT, yang menjadikan mereka takut kepada-Nya.
 
'Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik, niscaya Dia memahamkannya dalam urusan agama' [Bukhari/Muslim].
 
'Seandainya Allah memberi petunjuk (hidayah) kepada seseorang melalui kamu, niscaya (hal itu) lebih baik bagimu daripada kamu mendapat unta yang merah (harta yang paling disenangi)' [Sahl dari Ibnu Mas'ud].
 
Rasulullah Saw bersabda: 'Apabila anak adam mati, terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya' [Muslim].
 
Rasulullah Saw bersabda: 'Para Ulama adalah ahli Surga dan Khalifah-Khalifah (para pengganti) para Nabi' [Murdawaih].
 
Aisyah r.a, berkata: 'Apabila datang kepadaku suatu hari yang pada hari itu aku tidak bertambah ilmu, dalam terbitnya matahari pada hari itu, aku merasa tidak diberkati'.
 
Rasulullah Saw bersabda: 'Apabila telah terjadi hari kiamat, Allah mengumpulkan para Ulama. Lalu Dia berfirman: sesungguhnya Aku meniupkan hikmah-Ku kepada kalian dan Aku tidak akan menyiksa kalian, maka masuklah kalian ke Surga dengan berkat Rahmat-Ku'.
 
Rasulullah Saw bersabda: 'Sesungguhnya Allah berbangga kepada para Malaikat dengan tinta para Ulama, seperti Dia berbangga dengan darah orang-orang yang mati syahid' [Ibnu Abbas ra].
 
Umar Ibnu Khattab berkata: 'Duduk dalam mempelajari Fiqih, lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun'.
 
Imam Syafi'i berkata: 'Barangsiapa yang tidak mempunyai ilmu, niscaya tiada kebaikan padanya. Oleh karena itu, janganlah berteman atau bersahabat dengan orang yang tidak mencintai ilmu. Sesungguhnya ilmu menyebabkan hati menjadi hidup dan terang'.
 
Imam Al-Ghazali
foto madaniwallpaper.com
2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine