12 Safar 1440  |  Senin 22 Oktober 2018

Trump Boikot Debat Capres Partai RepublikFiqhislam.com - Calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, mengatakan, ia akan memboikot debat presiden Partai Republik yang akan dihelat di Iowa. Trump menolak mengikuti debat jika moderator debat adalah Megyn Kelly, yang sempat terlibat konfrontasi dengannya di masa lalu.

Hal itu diumumkan oleh manajer kampanye Trump, Corey Lewandowski. "Dia tidak akan berpartisipasi dalam perdebatan di Fox News, pada Kamis mendatang," kata Lewandowski seperti dikutip dari BBC, Rabu (27/1/2016).

Aksi boikot yang dilakukan oleh Trump ini pun dijawab oleh pihak Fox News. Pihak Fox menyatakan akan tetap menyiarkan debat kandidat calon presiden dari Partai Republik dengan atau tanpa Trump. Seorang juru bicara Fox News mengatakan, Trump masih diperbolehkan mengikuti acara debat tersebut, namun ia tidak akan diizinkan untuk menentukan moderator atau pun pertanyaan.

Pihak Komite Nasional Partai Republik (RNC) pun menyerahkan keputusan itu sepenuhnya kepada Trump. "Jelas kami akan senang jika semua kandidat dapat berpartispasi, tetapi setiap kampanye pada akhirnya yang membuat keputusan adalah mereka sendiri, apa yang terbaik bagi kepentingan mereka," kata Kepala Strategi RNC Sean Spicer. [yy/sindonews]

Kampanye Capres Amerika Serikat Tahun 2016 Menyedihkan

Pada Ahad (25/1) malam waktu Amerika Serikat, salah satu kandidat calon presiden, Hillary Clinton menyatakan tidak sepaham dengan provokasi Donald Trump. Di Democratic Town Hall, Amerika Serikat, Clinton menjawab keraguan veteran Muslim Angkatan Udara Amerika Serikat, Erum Tariq-Munir.

Menjawab pertanyaan veteran berhijab tersebut, Clinton menganggap provokasi dan diskriminasi terhadap Muslim oleh calon presiden lain itu termasuk bagian paling menyedihkan dari masa kampanye saat ini. Clinton tampak menahan emosinya untuk melanjutkan jawaban.

“Tidak hanya ofensif, saya pikir pernyataan tersebut juga berbahaya. Kita tidak bisa membiarkannya. Kita harus bangun dan katakan ‘setiap orang di negara ini layak diperlakukan dengan hormat’,” jelasnya.

Persoalan ISIS dan radikalisme pun disinggung dalam acara tersebut. Menurut Clinton, Amerika Serikat butuh membangun sebuah koalisi beranggotakan negara-negara Muslim. Namun dengan Islamofobia saat ini, membangun koalisi semacam itu sulit dilakukan.

Selain masalah Islamofobia dan radikalisme, Clinton juga mengungkapkan ia ingin menjadi presiden bagi semua orang. Termasuk untuk kalangan Partai Republik yang mendukung Trump. “Saya ingin menjadi presiden untuk semua orang, dan saya percaya hal itu memang seharusnya dilakukan oleh seorang presiden, di manapun ia berada,” tandas mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat tersebut. [yy/republika]

khaz.jpg
khaz.jpg
2007 ~ 2018  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine