16 Safar 1441  |  Rabu 16 Oktober 2019

MEA, Ancaman atau Tantangan bagi Ormas Islam?

Fiqhislam.com - Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA, merupakan istilah yang sering kita dengar akhir-akhir ini. Istilah ini seringkali muncul di berbagai macam media massa, cetak maupun elektronik.

Mungkin kita lebih dahulu mengenal istilah Masyarakat Ekonomi Eropa yang telah lahir lebih dari 5 dekade yang lalu. Secara umum keduanya hampir sama. Yang membedakannya hanyalah letak geografisnya, antara Eropa dan Asia Tenggara (ASEAN).

Tahun 2016 ini, MEA telah mulai diberlakukan di Indonesia. Sayangnya banyak kalangan masyarakat yang masih awam tentang apa itu MEA dan bagaimana sistemnya berjalan.

Timbul pula pertanyaan, apa peluang dan tantangan serta dampaknya bagi masyarakat luas termasuk berbagai organisasi massa Islam di Indonesia?

MEA, secara singkat, bisa diartikan sebagai bentuk integrasi ekonomi ASEAN. Artinya, semua negara-negara yang berada dikawasan Asia Tenggara alias ASEAN menerapkan sistem perdagangan bebas.

Indonesia dan seluruh negara ASEAN lainnya telah menyepakati perjanjian MEA tersebut, yang dalam bahasa Inggrisnya adalah ASEAN Economy Community atau AEC.

Secara umum, MEA diartikan sebagai suatu masyarakat yang saling terintegrasi satu sama lain, dalam hal ini antara berbagai negara ASEAN. Dimana di situ terjadi perdagangan bebas antar negara yang telah disepakati bersama para pemimpin negara-negara ASEAN.

Hal ini bertujuan untuk mengubah ASEAN menjadi kawasan yang lebih stabil, makmur dan kompetitif dalam pembangunan ekonomi.

Dalam website resminya, ASEAN menyatakan bahwa MEA merupakan tujuan dari integrasi ekomoni regional kawasan Asia Tenggara,  yang diberlakukan pada tahun 2015.

Karakteristik MEA meliputi empat hal, yaitu: berbasis pada pasar tunggal dan produksi, kawasan ekonomi yang sangat kompetitif, wilayah pembangunan ekonomi yang adil, dan kawasan yang begitu terintegrasi dalam hal ekonomi global.

Peluang Ekspansi Dakwah

Setelah mengetahui deskripsi sederhana tentang MEA, perlu diketahui dampak positif dan negatif dari MEA bagi Indonesia, khususnya ormas Islam.

Setidaknya, hemat penulis, masing-masing ada dua dampak positif dan negatif yang dimaksud. Dari situ, akan diketahui apa saja kekuatan dan kelemahan, serta tantangan dan peluang yang akan hadapi umat Islam.

Dampak positif dimaksud, bisa dicermati dari penjabaran oleh sebuah situs online berikut:

Asia Tenggara merupakan pasar besar yang begitu potensial dan juga menjanjikan. Luas wilayahnya sekitar 4,5 juta kilometer persegi, dengan jumlah penduduk mencapai 600 juta jiwa.

Angka yang cukup besar itu memberikan peluang bagi ormas-ormas Islam di Indonesia untuk menambah jumlah SDM-nya. Bukan hanya SDM dalam negeri, namun juga dari luar negeri.

Ormas-ormas Islam pun mendapat kesempatan untuk memperluas ekspansi dakwahnya ke negara-negara yang tergabung dalam MEA.

Dampak positif selanjutnya bisa dilihat dari penjelasan berikut:

MEA memberikan peluang kepada negara-negara anggota ASEAN dalam hal meningkatkan kecepatan perpindahan sumber daya manusia dan modal yang merupakan dua faktor produksi yang sangat penting.”

Kecepatan perpindahan SDM dan modal tersebut memberikan satu keuntungan tersendiri bagi ormas-ormas Islam, yaitu dengan mengirimkan para dainya ke seluruh penjuru negara-negara ASEAN.

Selain itu, pembangunan cabang-cabang ormas Islam di luar negeri akan sangat mudah karena dampak positif dari MEA tersebut.

Bukan hanya dampak positif. MEA juga menimbulkan dampak negatif, di antaranya bisa dilihat dari penjelasan oleh sebuah situs online berikut:

Dampak arus bebas investasi menimbulkan eksploitasi sumber daya (alam maupun manusia/SDA-SDM) yang ada di Indonesia oleh negara-negara asing. Apabila Indonesia tidak dapat menanganinya dengan baik, maka eksploitasi besar-besaran akan membuat Indonesia mengalami kerugian.”

Ketidaksiapan rakyat Indonesia dalam menghadapi MEA akan berdampak pada kerugian kepada bangsa Indonesia. SDA yang berlimpah, serta SDM yang kurang profesional, akan menyebabkan pengeksploitasi besar-besaran oleh perusahaan dan LSM asing.

Melihat realita yang ada selama ini, penulis berpandangan, sedikit sekali ormas Islam yang berperan dalam membangun perekonomian Indonesia. Terutama dalam hal menyediakan jasa dan mengelola SDA yang di negeri ini. Kebanyakan ormas Islam hanya bergerak di bidang tarbiyah atau dakwah.

Maka sangat besarlah kemungkinan, perusahaan dan LSM asing yang datang dengan para pekerja profesional, akan mengeksploitasi SDA maupun SDM di Indonesia.

Apabila ormas-ormas Islam di Indonesia tidak siap menghadapi MEA dari sisi SDM-nya, besar kemungkinan pergerakan perkembangan ormas Islam akan sulit. Bukan di luar negeri saja, bahkan di Indonesia pun akan banyak tantangan dijumpai.

Oleh karena itu, para dai dari berbagai ormas dituntut lebih profesional dan kompetitif dalam menghadapi “pesaing-pesaing” asing. Terutama dalam hal pemberdayaan SDM maupun pengelolaan SDA.

Serangan Budaya Asing

Dampak negatif lainnya bisa ditengok dari pemaparan terkait MEA berikut ini;

“Pembatasan dalam tenaga kerja profesional akan dihapuskan. Hal tersebut memberikan kesempatan tenaga kerja asing untuk masuk dalam lapangan kerja di Indonesia”.

Dengan dibebaskannya tenaga asing untuk bekerja di Indonesia, akan terjadi globalisasi dalam hal kebudayaan. Akan banyak sekali orang-orang dari negeri asing yang datang ke Indonesia. Khususnya karyawan, pekerja bahkan aktivis dari lembaga kemanusiaan maupun ormas yang ada di ASEAN.

Bisa jadi, akan banyak budaya dari negara asing yang bercampur baur di Indonesia. Hal itu bisa berdampak pada kultur dan budaya Nusantara yang selama ini dikenal dengan kultur keislamannya.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi ormas Islam, yang dituntut berperan penting, menjaga kultur keislaman dan ketimuran di Indonesia saat ini. Dengan tujuan, agar kultur itu tidak tercampur baur apalagi hilang akibat globalisasi dan dampak dari MEA.

Seiring itu, ormas Islam Indonesia dituntut untuk bisa tetap berdakwah dan bergerak dalam kultur mana pun di negara yang tergabung dalam MEA. Inilah tantangan sesungguhnya.

Dari serangkaian pemaparan tersebut, bisa dilihat bahwa MEA 2015 mempunyai dampak yang penting dalam pergerakan ormas Islam di Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan besarnya adalah, apakah ormas Islam bisa menjadikan MEA ini peluang untuk memperluas ekspansi dakwahnya? Atau malah menjadi penghambat pergerakan dakwah?

Kedua pertanyaan itu penting untuk dipikirkan oleh ormas-ormas Islam yang ada di Tanah Air, demi kemaslahatan umat dan bangsa ini ke depan. Wallahu a’lam.*

Bilal Tadzkir
yy/hidayatullah
2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine