16 Safar 1441  |  Rabu 16 Oktober 2019

NATO dan Barat Hanya Pura-pura Dukung Perdamaian SuriahFiqhislam.com - NATO dan negara-negara Barat tidak pernah serius mendukung upaya damai di Suriah. Hal itu disampaikan oleh juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov.

Dirinya menuturkan, selama ini NATO dan Barat hanya berpura-pura mendukung upaya damai di Suriah dengan mendukung penuh negosiasi damai yang baru saja berjalan beberapa waktu lalu. Negosiasi itu sejauh ini tidak menghasilkan apapun.

"Tak seorang pun di Barat atau di Brussels berpikir tentang negosiasi damai di Suriah. Mereka hanya menetapkan tenggat waktu untuk membuat runtuhnya negara tersebut, mereka mencoba mengulangi rencana yang telah meraka praktikan di Libya," kata Konashenkov, seperti dilansir Mehr pada Senin (8/2).

Sebelumnya, Konashenkov juga menyebut bahwa sejatinya yang membuat Suriah hancur seperti ini adalah NATO, dan bukan Rusia. "Sebelum Rusia meluncurkan kampanye udara di Suriah, negara-negara NATO telah menghabiskan hampir tiga tahun melakukan perjuangan melawan terorisme internasional," ucap Konashenkov.

"Kampanye udara Rusia beberapa bulan terakhir membantu Suriah menyadari bahwa mereka bisa melawan dan menghancurkan teroris internasional di negara mereka," imbuhnya.

 

Rusia Tuding NATO Biang Kerok Krisis di Suriah

Rusia menolak tudingan NATO yang menyatakan Moskow berupaya mengagalkan upaya damai Suriah. Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Rusia justru menyalahkan negara-negara NATO yang telah membawa kekacauan di Suriah dan Timur Tengah.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov menyebut pernyataan Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, sebagai pernyataan bodoh. Stoltenberg sebelumnya menyatakan, serangan udara Rusia menargetkan pasukan pemberontak telah merusak upaya damai Suriah.

"Kampanye udara Rusia beberapa bulan terakhir membantu Suriah menyadari bahwa mereka bisa melawan dan menghancurkan teroris internasional di negara mereka," katanya, seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (7/2/2016).

Konashenkov menambahkan,  sebelum Rusia meluncurkan kampanye udara di Suriah, negara-negara NATO telah menghabiskan hampir tiga tahun melakukan perjuangan melawan terorisme internasional.

"Kemudian tidak ada satu pun negara Barat yang berbicara tentang menegosiasikan penyelesaian untuk Suriah. Yang mereka lakukan semua adalah memastikan tanggal berakhirnya kekuasaan di Suriah ala Libya, di mana negara NATO merasa begitu bebas untuk membangun demokrasi gaya Barat," tukasnya.

NATO Gunakan Russophobia untuk Paksa Swedia Gabung

NATO disebut menggunakan Rusia untuk bisa mengajak, atau lebih tepatnya memaksa Swedia untuk bergabung dengan mereka. NATO menggunakan laporan bahwa Rusia diduga kuat sedang merencanakan serangan nuklir terhadap Swedia, untuk mengajak negara Skandinavia itu bergabung.

Berdasarkan laporan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg yang dirilis pada akhir Januari lalu, disebutkan bahwa selama tiga tahun terakhir Rusia telah melakukan setidaknya 18 kali latihan dalam skala besar. Beberapa di antaranya termasuk simulasi serangan nuklir pada sekutu NATO, termasuk Swedia.

Menurut  Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexei Meshkov, NATO benar-benar mencoba membangkitkan ketakutan terhadap Rusia di Swedia melalui laporan tersebut. Ini dimaksudkan untuk perlahan-lahan memaksa Swedia bergabung dengan mereka, dengan alasan NATO dapat membantu Swedia menghadapi ancaman yang ditimbulkan Rusia.

"Perdebatan yang sangat panas saat ini terjadi di Swedia mengenai sikap netral mereka, dan ada kekuatan lain yang mencoba untuk membawa Swedia ke dalam NATO. Salah satunya 'hal-hal menakutkan' yang disebutkan dalam laporan NATO, yakni dugaan latihan nuklir Rusia," kata Meshkov.

"Hanya ada satu alasan mengapa ini dilakukan, yaitu untuk mencoba untuk meningkatkan pengembangan Russophobia dan menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat Swedia melalui sebuah opini, dengan tujuan untuk mencoba dan menarik Swedia dalam Aliansi," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Senin (8/2).

Meshkov menyakinkan bahwa pihaknya sangat mematuhi apa yang disebut jaminan keamanan negatif. Dimana dalam hal itu ditetapkan bahwa negara-negara yang memiliki teknologi nuklir dilarang menggunakannya untuk menyerang atau mengancam negara-negara non-nuklir yang tidak memiliki hubungan kontraktual yang relevan dengan negara-negara pemilik teknologi nuklir.

Dalam hal ini, Swedia adalah salah satu negara yang tidak mengembankan, baik teknologi ataupun senjata nuklir. "Sehingga spekulasi mengenai penggunaan senjata nuklir terhadap Swedia adalah omong kosong belaka," pungkasnya. [yy/sindonews]

2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine