16 Safar 1441  |  Rabu 16 Oktober 2019

Bertanya Islam di Kafe Melbourne Fiqhislam.com - Hana Assafitri tahu betul bagaimana memanfaatkan kekuatan perempuan. Ia memulainya dari sebuah bar sup Maroko di Fitzroy Utara di Melbourne, Australia, sekitar 15 tahun lalu.

Ia mempekerjakan perempuan dari golongan ekonomi lemah untuk keluar dari siklus kemiskinan dan kekerasan domestik. Ia mengajari mereka kemampuan untuk menyediakan makanan bagi komunitasnya masing-masing.

Setiap dua minggu pada pukul tiga sore hari Ahad, perempuan Muslim berkumpul di restoran tersebut. Mereka datang tidak hanya untuk makan, melainkan juga melakukan "kumpul-kumpul singkat Muslim".

Kencan tersebut adalah mimpi Assafitri yang menjadi kenyataan. Kumpul-kumpul yang memberi kesempatan pada setiap orang untuk bertanya apa pun tentang Muslim. Assafitri membentuk kelompok berisi 30 orang pria dan perempuan. Mereka berkumpul di meja-meja bundar dengan perempuan Muslim di antara mereka.

"Tidak ada syarat apa pun, pertanyaan Anda bisa benar-benar jujur dan apa adanya," kata Assafitri, dikutip the Guardian.

Ia menuturkan, satu-satunya syarat untuk bergabung adalah sikap saling menghormati. Tidak ada niat untuk melecehkan dan mendiskriminasikan perempuan Muslim tersebut.

Assafitri memastikan bahwa setiap perempuan Muslim mengutarakan pandangannya sendiri dan tidak mewakili Islam atau Muslim secara keseluruhan. Pada akhirnya, tambah Assafitri, tidak ada pandangan bahwa Islam mengizinkan pelecehan dan penindasan.

Saat percakapan berlangsung, ada pujian, sorakan, dan restoran dipenuhi dengan canda tawa. Tidak seperti acara bernuansa keislaman lainnya, acara singkat Assafitri lebih informal.

Selama kurang lebih satu jam, pria dan wanita berpindah-pindah meja. Di satu meja, ada agenda kontemplasi, seperti sama-sama berpikir bagaimana kericuhan mungkin bisa terjadi di Melbourne.

Seorang konsultan kesetaraan dan keragaman gender, Maria Dimopoulos, telah menghadiri acara ini untuk kedua kalinya. Ia mengaku, acara pertamanya membuat pandangan tentang perempuan Muslim menjadi berbeda.

Dimopoulos mengatakan, ia punya pertanyaan tersendiri untuk perempuan. "Saya penasaran apakah perempuan Muslim menggunakan hijab adalah bentuk kompromi terhadap feminisme. Kemudian, saya mempelajari bahwa ternyata tidak demikian," katanya.

Dimopoulos mengatakan, penggunaan hijab adalah dimensi lain dari feminisme. "Ini bisa memperkuatnya," kata dia.

Dimopoulos duduk berbicara dengan Muslimah yang bekerja sebagai penulis dan penyunting Sultana's Dream, sebuah majalah Muslimah, Hanifa Deen. Deen tidak menggunakan cadar dan mengatakan bahwa itu adalah pilihan setiap Muslimah.

Ia mengaku keberatan dengan pandangan media yang selalu mengutip pria jika ada persoalan Islam. Seakan, argumen mereka mewakili seluruh Muslim. "Orang-orang tidak bertanya kepada perempuan," katanya.

Assafitri sepakat dengan hal itu. Menurutnya, Muslimah di Australia sangat brilian dan dermawan. Namun, mereka tidak pernah disorot ke permukaan. "Saya ingin memberikan kepada mereka sebuah kesempatan," katanya.

Assafitri menyadari bahwa ia mungkin masih harus berjuang untuk mengubah pikiran dan pandangan siapa pun yang menolak Islam. Namun dengan komunitasnya ini, kesempatan mengenal Islam terbuka bagi siapa saja yang siap membuka pikiran.

Mereka kebanyakan datang karena ingin merayakan multikulturalisme dan mempelajari keberagaman. Karena setiap Muslimah memiliki cerita, seperti dilecehkan di jalan secara fisik atau verbal. Sareh Salarzadeh bahkan pernah dilempar sebotol bir. Ia pernah juga hampir ditabrak dengan sengaja di jalan.

"Kita tidak bisa menunggu Martin Luther King atau Gandhi, tapi kita bisa membuat model percakapan yang dibawa ke seluruh Australia," katanya.

Assafitri percaya bahwa komunitasnya kreatif, berani, dan berusaha. Sehingga, orang-orang bisa belajar lebih, bisa lebih tulus dan yakin. Tujuan utama aktivitas ini adalah menciptakan komunitas yang membaur dan saling menghormati melalui percakapan. [yy/republika]

2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine