16 Safar 1441  |  Rabu 16 Oktober 2019

Bayangan Suram Masa Depan Muslim di Dagestan

Fiqhislam.com - Sebagai salah satu negara bagian di Rusia, Dagestan tidak sekadar tercatat memiliki mayoritas penduduk beragama Islam. Negara yang terletak di utara Kaukasus itu juga dikenal karena menjadi tempat kelahiran Imam Shamil, pejuang legendaris yang memelopori perlawanan sengit masyarakat Chechnya dan Dagestan terhadap Kekaisaran Rusia pada abad ke-19 silam.

Bahkan, sosok Imam Shamil sampai saat ini masih dihormati oleh masyarakat di kedua negeri, baik Dagestan maupun Chechnya. Ketika rezim komunis Bolshevik berusaha menancapkan kendalinya di Kaukasus pada awal dekade 1920-an, Dagestan berganti status menjadi republik otonom Soviet di bawah naungan Federasi Rusia.

Selama periode kepemimpinan Joseph Stalin (1922–1953), banyak orang Dagestan yang melarikan diri ke negeri tetangga seperti Chechnya dan beberapa kawasan lainnya.  Setelah runtuhnya Uni Soviet, pemerintahan Republik Dagestan tetap berada di bawah kendali Rusia.

Akan tetapi, negeri itu kemudian menjadi ‘terkenal’ lantaran meningkatnya kejahatan di tengah-tengah masyarakatnya. Tidak hanya itu, korupsi yang kian merajalela di kalangan elite pemerintahannya juga turut mempersuram masa depan negeri itu.

“Posisi geografis Dagestan yang berbatasan langsung dengan Azerbaijan di selatan, kini juga dimanfaatkan sebagai pintu gerbang pemasaran narkoba dari Rusia,” ungkap Enver Kisriev dalam karya tulisnya, Dagestan: Power in the Balance.

Pada Agustus 1999, kelompok militan di bawah pimpinan Shamil Basayev mendeklarasikan berdirinya negara merdeka di beberapa bagian Dagestan dan Chechnya. Kelompok itu juga menyerukan kaum Muslimin yang tinggal di kedua negeri untuk ikut mengangkat senjata melawan Rusia.

Sejumlah pejuang Chechnya pun menyeberang ke Dagestan untuk mendukung gerakan itu. Akan tetapi, pasukan Rusia pada akhirnya mampu memadamkan pemberontakan tersebut hanya dalam beberapa pekan.

Karena Konflik Sosial-Politik Muslim Dagestan Sulit Berkembang

Republik Dagestan adalah sebuah negara berpenduduk mayoritas Muslim yang terletak di utara Kaukasus. Negeri tersebut kini menjadi bagian dari Federasi Rusia. Menurut survei resmi 2012, sebanyak 83 persen dari total penduduk Dagestan adalah pemeluk Islam.

Nama Dagestan memiliki dua akar kata, yaitu dağ (yang dalam bahasa Turki bermakna ‘gunung’) dan stan (sufiks dalam bahasa Persia yang berarti ‘tanah’). Dengan begitu, toponimi Dagestan dimaknai sebagai ‘tanah pegunungan’.

Secara geografis, Republik Dagestan berbatasan dengan Chechnya dan Georgia di barat, Azerbaijan di selatan, serta Laut Kaspia di sisi timur. Meski luas wilayahnya relatif kecil, yakni hanya 50 ribu km persegi, Dagestan menjadi terkenal lantaran keragaman etnisnya. Bahkan, menurut laporan BBC, terdapat lebih dari 30 bahasa yang dipertuturkan oleh penduduk republik tersebut.

Suku Avar merupakan kelompok etnis terbesar di Dagestan. Jumlah mereka diperkirakan mencapai seperlima dari total penduduk negeri itu. Selain itu, ada juga suku Dargin, Kumyk, Lezgin, Lak, Tabasaran, Chechen, dan Nogai. “Sementara, sisanya sekira 10 persen lagi adalah etnis Rusia,” ungkap laman BBC dalam artikel Dagestan Profile – Overview.

Selama berabad-abad, masyarakat Muslim Dagestan didominasi oleh golongan Sunni dengan mazhab Syafi'i. Sementara, di wilayah Pantai Kaspia, khususnya di Kota Derbent dan sekitarnya, terdapat penganut Syiah dalam jumlah yang cukup signifikan.

Selain itu, ada pula beberapa kelompok tarikat (sufisme) yang telah mengakar dalam tradisi-tradisi lokal di Dagestan sejak abad ke-14. Dua di antaranya adalah kelompok tarikat Naqsyabandiyah dan Qadiriyah—yang umumnya menyebar di Kaukasus Utara.

Pakar sejarah Dagestan, Profesor Amri Shikhsaidov menuturkan, Islam telah menjadi satu dari sejumlah faktor penting dan berpengaruh bagi kehidupan sosial, politik, dan budaya di Dagestan. Berbagai situasi di negara itu bahkan tidak lagi dapat dipahami di luar konteks agama.

“Oleh karenanya, wajar bila kalangan ilmuwan politik menggambarkan Dagestan sebagai republik yang paling kuat pengaruh Islamnya di antara negara-negara federasi Rusia lainnya,” ungkap Shikhsaidov dalam tulisannya, Islam in Dagestan.

Menurut catatan, Dagestan memiliki cadangan minyak dan gas bumi yang cukup besar. Di samping itu, negeri tersebut juga mempunyai potensi sumber daya laut yang menjanjikan karena posisinya yang berdekatan dengan Laut Kaspia.

Namun sayang, berbagai konflik sosial dan politik yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan menyebabkan Dagestan terus berada dalam kondisi yang tidak stabil Sebagai akibatnya, penduduk Dagestan kini masuk dalam daftar masyarakat paling miskin di Rusia. [yy/republika]

2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine