15 Muharram 1441  |  Minggu 15 September 2019

Budi pekerti adalah buatan manusia. Sedangkan akhlak Islam (seorang muslim) dituntun oleh firman Allah dan sabda Rasulullah saw. Budi pekerja bersifat nisbi, selalu berubah-ubah setiap zaman sesuai dengan nilai-nilai dan selera masyarakat pada saat itu. Akhlak bersifat mutlak, universal, dan berlaku untuk setiap zaman.

Dalam salah satu hadist, Nabi bersabda, ''Bila tak malu, maka kerjakan apa yang Anda sukai.'' Sifat malu berkaitan sekali dengan sifat akhlakul karimah, karena 'malu' bersangkut paut dengan harga diri dan kehormatan.

Rasulullah saw menjelaskan: ''Malu tidak menghasilkan kecuali kebaikan.'' Dari sifat terpuji tersebut timbullah sifat sabar, yakni dapat mengendalikan diri ketika hati mendidih. Kesucian pun terjaga, sehingga yang bersangkutan dapat melepaskan diri dari hal fahsya dan munkar.

Di samping itu akan lahir pula keberanian, walau harus mengorbankan kepentingan pribadi, dan sikap adil -- menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Imam al-Ghazali, dalam Khuluq al-Muslim, menjelaskan bahwa malu adalah sumber utama kebaikan dan unsur kemuliaan dalam setiap pekerjaan. Sebagai muslim, kata al-Ghazali, kita hendaknya selalu merasa malu untuk mendekati perbuatan maksiat, kejahatan, keburukan, dan kehinaan.

Paling tidak, kita seharusnya merasa malu kalau sering menggunjing kesalahan orang, mencela, dan menghinanya. Kita, menurut al-Ghazali, juga harus malu jika tidak berani menentang orang yang berbuat batil, sungkan menegur orang yang berbuat salah, menambah-nambah pembicaraan yang tidak benar. Hendaknya kita malu melakukan semua perbuatan yang menyimpang dari nilai-nilai agama, dan selanjutnya merasa malu dilihat oleh masyarakat, diri sendiri, dan terutama oleh Allah swt.

Berdasarkan riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda, ''Sesungguhnya Allah swt bila berkehendak menjatuhkan seseorang, maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya). Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya. Bila kepercayaan kepadanya sudah hilang maka ia akan jadi orang yang khianat. Dengan menjadi khianat, dicabutlah kerahmatan dari dirinya.

Bila rahmat dicabut darinya, jadilah ia orang yang dikutuk dan dilaknati orang banyak. Dan bila ia menjadi orang yang dilaknati orang banyak, maka lepaslah ikatannya dengan Islam.''

Hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar di atas sangat rinci menjelaskan proses hancurnya jiwa yang bermula dari sirnanya 'rasa malu', sebagai salah satu akhlak mulia. Dan, hal itu berdampak pada timbulnya perbuatan yang tidak senonoh. [yy/republika]

Oleh Hasan Basrie Alcaff    

 

Tags: Malu , Akhlak , Kemuliaan
2007 ~ 2019  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine