9 Dzulhijjah 1439  |  Selasa 21 Augustus 2018

Diduga Mata-mata Iran, 30 Warga Syiah Diadili di Saudi

Fiqhislam.com - Arab Saudi mengadili 32 orang, termasuk 30 anggota dari kelompok minoritas Muslim Syiah, yang dituduh sebagai mata-mata Iran, kata beberapa surat kabar dan televisi lokal pada Senin (22/02/2016).

Sebanyak 32 orang, termasuk orang Iran dan Afghanistan, ditahan pada 2013. Hal ini memicu kehawatiran di kalangan Syiah Saudi yang mengatakan bahwa beberapa di antara terdakwa merupakan tokoh terkenal dalam komunitas mereka dan tidak terlibat dalam politik.

Proses peradilan ini dapat menimbulkan ketegangan antara Muslim Syiah dan Sunni lokal dan dengan Iran, yang menolak keras tuduhan pada saat itu.

Persaingan sengit antara kerajaan yang dikuasai Sunni dan Iran, sebuah negara teokrasi Syiah, telah memperburuk perang dan persaingan politik di Suriah, Irak, Libanon, Yaman dan Bahrain dan dianggap oleh banyak pengamat sebagai penyebab ketidakstabilan wilayah.

Ketegangan meningkat pada Januari ketika Riyadh memutuskan hubungan diplomatik setelah pengunjuk rasa menyerbu kedutaan mereka di Teheran karena marah atas ulama Syiah yang dihukum atas tuduhan terorisme.

Kantor kejaksaan Riyadh menuntut 32 orang itu pada Minggu di Pengadilan Pidana Khusus kata jaringan televisi milik Saudi.

Tuduhan yang dialamatkan kepada mereka termasuk pembentukan jaringan mata-mata dengan anggota intelijen Iran dan mengakses informasi militer penting, berusaha merusak kepentingan ekonomi Saudi, merusak kerukunan masyarakat dan menghasut perselisihan sektarian.

Selain itu, mereka juga diduga mendukung protes di wilayah yang didominasi Syiah, Qatif di Provinsi Timur, merekrut orang lain untuk memata-matai, mengirimkan laporan bersandi untuk intelijen Iran melalui surat elektronik dan melakukan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap raja.

Ke-32 orang itu juga dituduh memiliki buku yang dilarang dan publikasi lainnya, al-Arabiya dan media lain milik Saudi melaporkan.

Di antara mereka yang ditangkap pada 2013 adalah seorang profesor universitas, dokter anak, bankir dan dua ulama. Sebagian besar dari al-Ahsa, wilayah campuran Syiah dan Sunni yang merupakan rumah bagi sekitar setengah anggota sekte kelompok kecil kerajaan.

Arab Saudi telah menyalahkan kerusuhan sporadis di kalangan Syiah di Qatif, tapi tidak pernah mengumumkan secara terbuka bukti hubungan langsung antara mereka yang mengambil bagian dalam kecaman keras dari 2011-2013 dan Teheran, yang membantah keterlibatan apapun.

Pada 2012, dia mengatakan peretasan pada Agustus terhadap jaringan komputer produsen energi negara Saudi Arabian Oil Co (Saudi Aramco) itu berasal dari server di negara-negara lain dan beberapa pengamat menunjuk pada Iran, yang juga membantah tuduhan itu.

Hubungan antara Arab Saudi dan Iran non-Arab memburuk setelah revolusi pada 1979  membawa ulama Syiah berkuasa. Arab Saudi mengikuti ajaran Wahhabi Islam Sunni yang memandang paham Syiah sesat.

Syiah di Provinsi Timur mengatakan mereka menghadapi diskriminasi terus-menerus yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja, belajar dan beribadah secara bebas, tuduhan yang dibantah Riyadh. [yy/rimanews]

khaz.jpg
khaz.jpg
2007 ~ 2018  |  Copyright  Fiqhislam.com  |  Design by JoomlaShine